Posted by: lilyardas | March 18, 2012

Mengajarkan Bayi Membaca?

Miris rasanya melihat semangat orang tua yang mengajarkan anak bayinya membaca. Tahukah anda, hal itu beresiko pada kerusakan otak dan karakter anak anda?

Dalam sebuah seminar pendidikan yang diadakan oleh Fundi Motessori Teacher Training Center, dijelaskan bahwa perkembangan otak anak berdasarkan teori Triune Brain oleh Paul M. Lean, memiliki tahapan sebagai berikut:

  • Fish Brain –  merupakan perkembangan batang otak anak yang terjadi ketika anak masih di dalam kandungan.  Itu sebabnya mengapa seorang bayi mampu “berenang” di dalam kandungan ibunya, juga mampu berenang di dalam air tanpa ada yang mengajari. Coba aja cemplungin bayi-bayi baru lahir up to 1-2 months ke dalam bak mandi, secara otomatis mereka akan menggerak-gerakkan kaki dan tangannya seperti seekor anjing yang sedang berenang. Tapi umumnya orang tua udah keburu ngeri duluan 🙂
  • Reptile Brain – merupakan bagian perkembangan dari batang otak dan cerebelum. Pada fase ini anak memiliki tingkah laku seperti reptil yaitu bergerak, melawan atau kabur, serta menghindari perubahan. Fungsi pencernaan, reproduksi, sirkulasi dan pernapasan juga disimpan di sini. Tak heran bila bertemu dengan orang asing, atau merasa kenyamanannya terganggu, seorang anak cenderung “kabur” atau “melawan”. Kabur direpresentasikan dalam bentuk ngumpet di belakang orang tuanya, sedangkan bertahan direpresentasikan dalam bentuk marah, memukul, dan bentuk penyerangan lainnya. Biasanya di usia 2-3 tahun
  • Mammals Brain – merupakan bagian perkembangan dari sistem limbik. Di masa ini anak mulai mengenal cara bersosialisasi dengan baik. Mereka suka bermain secara berkelompok, menciptakan aturan main bersama-sama, bernegosiasi dan bertukar ide. Biasanya di usia 4 tahun.
  • Cerebral Cortex – merupakan lapisan terluar otak, yang fungsinya terbentuk sempurna bila fungsi batang otak dan sistem limbik sudah sempurna. Pada bagian otak ini lah, fungsi-fungsi kognitif  atau intelektual berkembang termasuk kemampuan calistung.

Bisa saja seorang anak diajarkan membaca di usia dini. Hanya saja, walaupun disampaikan dengan cara bermain, nutrisi yang diterima oleh anak akan membantu otak untuk bekerja keras menyempurnakan fungsi Cerebral Cortex-nya. Akibatnya, akan ada bagian otak lain yang “dikorbankan” alias tidak berfungsi dengan sempurna, biasanya bagian Reptile Brain atau Mammals Brain. Ini mungkin bisa menjawab mengapa orang-orang yang sangat-sangat pintar, umumnya tidak mampu bersosialisasi, berorganisasi, dan tidak mampu menyelesaikan konflik

Jean Piaget (1896-1980), seorang ilmuwan pendidikan asal Switzerland, menyebutkan anak-anak menyerap pengetahuan melalui 4 tahap:

  1. Object Level – mempelajari sesuatu berdasarkan benda nyata. Misalnya mereka mengenal kata “apel” ketika orang dewasa menunjukkan benda apel pada mereka
  2. Index Level – mempelajari benda berdasarkan pengalamannya, misalnya memegang apel, menyentuh apel, memakan apel
  3. Symbolic Level – mempelajari benda berdasarkan simbol, misalnya foto apel
  4. Sign Level – anak siap untuk membaca atau menulis kata “apel”

Jerome Bruner (1915-…), pakar pendidikan asal Amerika, menyebutkan bahwa pendidikan adalah “a process of discovery.” Idealnya, kita sebagai orang tua menstimulasi anak kita agar mereka mampu menemukan informasi itu sendiri, bukan “mencekokinya” dengan informasi. Proses penerimaan informasi tersebut ia klasifikasikan sebagai berikut:

  • Enactively: Anak belajar berdasarkan pengalamannya, yang mengantarnya untuk berpikir
  • Iconically: Anak mengerti apa itu gambar dan diagram
  • Symbolically: Anak mampu mengerti dan bekerja berdasarkan konsep yang abstrak (tulisan)

Dari paparan di atas, jelas sekali proses pendidikan harusnya dimulai dari benda-benda nyata (concrete) kemudian baru menuju calistung (abstract).

Pertanyaan: Kapan sebaiknya anak diajarkan membaca?

Jawaban: Ketika mereka siap.

Sama seperti halnya ketika seorang bayi siap untuk belajar berdiri, mereka akan melakukan “self discovery” bagaimana caranya untuk mengangkat badan mereka dan bertumpu di kedua kakinya. Penggunaan “baby walker” hanya akan mengorbankan perkembangan otot kaki mereka yang malahan bisa membuat kaki mereka bengkok, juga perkembangan otot pinggang dan pinggul yang seharusnya ditopang oleh otot kaki malahan ditopang oleh otot pantat.

Begitu pula dengan membaca. Anak bisa terlihat sudah memiliki minat atau belum, terlihat dari kesenangan mereka memegang buku, melihat2nya atau bertanya “ini apa?” kita jelaskan itu huruf A. Kita bisa menstimulasinya dengan bercerita berdasarkan benda dan gambar. Ketimbang mengajarkan anak membaca di usia dini, orang tua sebaiknya melakukan dongeng minimal 15 menit tiap hari sebelum tidur, baik dengan gambar, buku, atau tanpa alat bantu. Dongeng merupakan sarana yang baik bagi anak untuk belajar mendengar (ini penting banget nih), menambah perbendarahaan kata, dan mengembangkan imajinasi mereka.

Finlandia adalah negara dengan kualitas pendidikan paling baik di dunia. Di sana, anak diajarkan membaca di usia 7 tahun. Jadi apa perlunya mengajarkan anak membaca di usia dini? Sebuah penelitian menemukan anak yang diajarkan membaca saat berusia 7 tahun memiliki kecepatan belajar yang sama seperti anak berusia 4 tahun. (klik di sini)

Pertanyaan: Kalau begitu metode Glen Domann gak boleh ya?

Jawaban: Bila kita merunut teori proses penyerapan informasi anak, seperti yang dipaparkan di atas, metode GD bisa merusak Reptilian Brain dan Mammals Brain. Karena walaupun disampaikan dengan cara bermain, otak cortex mereka yang bekerja untuk menyimpan memori. Selain itu, metode ini melewati proses Object Level, Index Level, Symbolic Level

Dalam proses membacanya pun, GD menggunakan metode fotometrik, dalam artian kata akan dilihat oleh anak dalam bentuk 1 obyek. Ke depannya dikhawatirkan anak tidak mengerti konsep pembentukan kata. Di Amerika sendiri, metode ini dikecam sebagai scam/penipuan. Lagi pula sejauh ini, GD belum mampu memberikan riset mengenai keuntungan seorang bayi bisa membaca

“Jika mau mendongengkan siapa Glenn Doman, panjang dan menarik juga. Di Amerika ia dikelompokkan sebagai orang yang melakukan quackery dan health fraudulent (penipuan dalam bidang kesehatan), karena memperdagangkan programnya untuk menyembuhkan (katanya) anak-anak cacat mental, mental retarded, dan brain damage (yang sebetulnya long live disabilities yah!). Menurutnya bisa disembuhkan. Sehingga banyak orang tua mengambil anaknya dari pendidikan sekolah khusus yang mengajarkan kemandirian dan sosialisasi (menyiasati kemampuan si anak agar ia mampu menyandang gangguan tsb dan  mampu hidup ditengah-tengah masyarakat). Anaknya dibawa ke Glenn Doman, tidak boleh sekolah karena harus ditreat 40 jam seminggu (menyita waktu ya?). Hasilnya? Abusing terhadap mental anak menjadi stress, waktu anak tersia-sia untuk mempelajari kemandirian, dan menyikat habis duit orang tuanya, orang tuanya berkelahi kiri kanan dengan saudara, dlst.

Glenn Doman sekarang sudah tua, usahanya diteruskan oleh putrinya  Jannet Doman tetapi tetap membawa nama bapaknya. Usahanya engga lagi ke arah anak-anak cacat, tapi mengikuti trend terakhir menjadi The Prodigy Makers (pembuat super baby jenius) dengan dasar teorinya yang justru bertentangan dengan berbagai temuan ilmiah. Para The Prodigy Makers ini juga selalu dicaci maki oleh berbagai fihak termasuk Zero to three org, karena membuat bingung para orang tua dengan berbagai teorinya yang kelihatan ilmiah tetapi ngawur. Lebih seru lagi kalau bisa membaca bukunya Edward F Zigler dengan judul The First Three Years & Beyonds. Disana banyak deh ditampilkan berbagai masalah dan dilema pengasuhan anak batita. Rusuhnya banyak.

Munculnya The Prodigy Makers ini karena adanya program pemerintah US Early Head Start yaitu  penyantunan anak-anak berkebutuhan khusus (special needs) dari keluarga miskin. Oleh pemerintah anak-anak ini diberi full screening dan berbagai intervensi dini, maksudnya agar nanti saat usia 5 tahun ia sudah siap secara fisik dan psikis (mental, emosional, percaya diri dlsb) masuk sekolah (school readiness). Tapi ide pemerintah ini kemudian diplesetkan oleh kelompok The Prodigy Makers  yang umumnya pedagang program dan buku itu, untuk mengeruk duit para orang tua yang terkesima oleh ide early intervention ( bukan cuma mulai bayi saja sasarannya, ibu-ibu hamil juga jadi sasaran, disuruh pakai musik di perut, dibacakan buku cerita dlsb) lalu dibohongin saja sekalian oleh mereka.

Akhirnya ngetrend deh di dunia. Lagian masak kita mau sih dibohongin orang Amerika itu? Datangnya dari Amerika, dari negara maju, bukan berarti terus bener lho. Kalau sudah banyak warning gitu, ya kita ini ngeh lah ya…. masak mau sih ikutan ditipu. Lagipula negarakita sedang krismon gini… ee kok ya tega…

Salam,

Julia Maria van Tiel

Pembina milis anakberbakat@yahoogroups.com

Doktor antroplogi kesehatan

Mantan dosen UI”

Entah siapa yang salah, apakah orang tua yang terlalu menuntut, guru yang kurang pengetahuan, atau pemerintah yang kurang ketat dengan aturannya, yang pasti kegiatan calistung ini mendapat kritik tajam dari Kemendiknas sendiri, silakan baca:

Advertisements

Responses

  1. Reblogged this on Bundapiaradaku and commented:
    Ahhh Alhamdulillah sy dan suami pernah bersepakat utk tak mengajarkan anak membaca tll dini, atau memaksanya belajar membaca di uaia dini ^^

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: