Posted by: lilyardas | May 29, 2008

Menyusui itu (gak) gampang

Sejak awal hamil, saya memang sudah bertekad untuk memberikan ASI eksklusif buat anak saya. Walaupun demikian ada perasaan was2 juga, karena ada keraguan dari pihak keluarga dan juga diri saya sendiri tentang bakal keluar atau gaknya ASI. Ini gara2 ibu saya dan kakak saya gak pernah keluar ASI-nya… jadi rada was2 juga, ASI-ku keluar gak ya? Bodohnya bukannya cari informasi sedari awal, rasa was2 itu saya pelihara aja sendiri.

 

Waktu Hasbi keluar ke permukaan bumi ini 18 April kemarin, rasa was2 itu berlanjut, karena ternyata sang ASI memang gak keluar. Tapi para suster membesarkan hati saya, kalau operasi cesar itu ASI-nya baru keluar hari ke-2 dan ke-3, beda dengan yang lahiran normal, yang langsung keluar pada saat melahirkan. Hal ini disebabkan hormon2 yang bekerja masih berkutat ngurusin rahim, belum pindah langsung ke payudara. Maklum lah, kalo cesar kan keluarnya gak alamiah, makanya si hormon2 itu telat beloknya 😀

 

Hari ketiga, si ASI yang ditunggu2 datang dengan lubernya. Wah, saya rasanya pengen menari2 saking girangnya. Hati saya bersorak, ”You are wrong, dude!!” seru saya dalam hati ditujukan kepada mereka yang meragukan kemampuan saya memproduksi ASI.

 

Sepulangnya Hasbi ke rumah, saya selalu susui dia dengan sepenuh hati. Bagi saya menyusui itu adalah sensasi yang sangat menyenangkan. Terutama melihat ekspresi mukanya yang celangapan mencari sumber makanannya. Duh, lucunya…

 

Tapi di hari kesepuluh, saya panik. ASI saya mampet! Menjelang menyusui gak ada ASI setetes pun yang keluar. Duh, paniknya. Sementara Hasbi sudah teriak2 kelaparan. Susu formula pun daku tak punya stok. Terpaksa lah tante saya menggendong2 Hasbi untuk menenangkannya, sementara saya ngebut pake ojek ke Apotik beli susu formula.

 

Sejak saat itu stress mulai datang. Internet dibuka untuk cari informasi. Semua orang ditanya tentang pengalamannya memberi ASI. Tapi tetap aja muncul yang gak enaknya, berupa komentar2 yang gak penting

 

“Tuh, kan… ternyata Lily sama aja sama kakaknya gak ada ASI-nya”

“Ya udah kasih susu formula aja, toh seumur2 kamu juga gedenya sama formula”

”Rusuh amat sih ASI-nya sedikit, kalo emang sedikit ya mo diapain”

”Makanya makan ini makan itu, jangan begini jangan begitu bla bla bla….”

 

Sumpah… pengen rasanya nyambitin orang2 itu satu per satu… Wong lagi pengen berjuang ngasih yang terbaik untuk anak sendiri kok situ yang repot.

 

Alhamdulillah, Elpi sang suami tercinta selalu mendukung dan menenangkan saya. Lewat dia pula akhirnya saya ketemu milis ASI For Baby yang sampe saat ini jadi referensi saya. Klinik Laktasi di RS Bunda Menteng (telp 31922005 ext 400) dan RS Carolus (telp. 3904441 ext 2271) pun dijabanin untuk mencari tambahan informasi. Alhamdulillah, walaupun sempet bocor ASI campur formula selama 2 minggu, sekarang Hasbi sudah kembali ke sumber makanan terbaik yang memang diciptakan khusus oleh Sang Pencipta bagi makhluk2 mungilnya.

 

Selamat menyusui…

Advertisements

Responses

  1. Hi Ly,

    Good job. ASI memang yg terbaik untuk anak kita di bulan2 pertama dalam hidupnya. Kalau bisa disambung sampai dia berusia 2 thn akan lebih baik lagi.

    So I applaud you for having the courage for going against the odds, despite of discouragement from (sadly) your own family. But you have the most important thing, your hubby’s full support!

    Sama d sama ikke dulu.

    Sorry for not being there when you needed someone to ask to. Being a mother of two kids that I nursed for two years each (Qinan even continued and share with Raqi till she was four 😉 ) has made me think that I have become an lactation expert. And that’s how you’re going to feel as well when you see newbies. Go on pass it on to them, they need it as how you needed the support then.

    (sori, bahasa campur aduk. yg penting message-nya nyampe ya bu).

    Like

  2. hehehe tengkyu Un… ya gitu deh, namanya juga jalur informasi masih terbatas, jadi masih banyak yang salah kaprah soal ASI. Ini juga terjadi sama beberapa teman yang nyaris “perang” sama ortu atau mertua urusan per-ASI-an.

    Kebetulan temen suami sedang bikin studi tentang industri susu. Ternyata emang ASI yang terbaik sampai usia 2 tahun, dilanjutkan dengan susu UHT.

    Gak ngerti juga kenapa industri susu formula jadi berkembang banget dibanding UHT. Dibilang lebih murah dari UHT gak juga, mungkin karena lebih tahan lama aja.

    Like

  3. Waduh mbak,…salut ama kerja kerasnya. Saya juga termasuk bunda yang ASInya agak bermasalah.
    Sedihnya lagi, orang rumah gak ada yang bisa kasih support (khususnya ibu sendiri). Agak terpuruk emang rasanya. ASI keluar tapi gak deres…

    Udah berusaha, tapi karna Sayanya stress, tetep aja ASInya gak keluar. Cuman tahan ampe 3 bulan. Udah itu STOP deh tuh ASI.

    Menyesal pasti… udah pasti. Saya mau tanya, ASInya mbak Lily koq bisa deres lagi setelah 2 minggu…bagaimana ya?

    Padahal semenjak hamil, saya rutin minum MOLOCO B12, yang dikasih resep ama dokter. Bahkan sampai melahirkan. Tapi koq gak pengaruh ya?

    Saya mau donk mbak sharing mengenai pemberian ASI. Saya masih berharap, di kehamilan kedua Saya nanti, Saya bisa memberikan ASI Eksklusif buat anak Saya.
    Bagi infonya ya mbak….

    Ma kasih sebelumnya ya…

    Like

  4. yang saya baca, keberhasilan ASI 80% adalah dari perasaan tenang, happy and percaya diri. Support paling banyak saya dapatkan dari suami dan teman2 milis asiforbaby, beberapa malah sms-an dengan saya walaupun kita saling gak kenal. Additional support juga dari suster Muji, klinik laktasi bunda, yang rela ditelepon malem2 ke HP-nya untuk urusan ASI

    Pengalaman teman2 di milis juga sama, umumnya bentrok dengan ortu or mertua. Ya maklum aja, secara gap usia kita kan dengan mereka dah jauh, and toh dengan cara ortu kita membesarkan kita, kita jadi orang sukses juga. Makanya gak heran mereka gak terlalu support dengan ASI.

    Awalnya saya juga gak obsesif kompulsif dengan ASI, secara seumur2 gak pernah minum ASI, toh lulus UMPTN juga, toh IP lumayan tinggi juga, toh prestasi berderet juga, toh kerja di perusahaan oke juga. Tapi emang gampang tumbang alias sakit 😀

    Stress plus molocco gak kan ada hasilnya. Gak stress minus molocco, insya Allah ASI lancar. Saya kadang2 minum molocco juga, tapi gak selalu memberi efek yang diharapkan. Saran saya? Ganti dokter aja mbak, ngaco tuh dokter kalo cuma ngasih molocco tanpa edukasi yang cukup tentang ASI 😀

    Salah satu referensi buku ttg ASI ada karangan dr. Utami Roesli “ASI Eksklusif”, saya gak baca sih, tapi kakak saya yang baca. Atau penyuluhan aja di klinik laktasi Bunda or Carolus

    Like

  5. At the end of the day, it’s worth the effort.It might be an idea to jot down some experience for Hasbi’s reference in future. In hindsight, I believe one should’ve realised what her mother had been through.

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: