Posted by: lilyardas | May 20, 2007

May 19: Racism in Hawaii

Jas’ case (Malaysian):
Sebelum berangkat ke Hawaii, dia sempat email beberapa calon host family, menanyakan harga kamar. Ketika kamar yang dia suka dirasakan mahal, dia coba tanya apakah kamar itu harganya masih negotiable atau tidak. Jawaban yang diterima adalah “Maaf ya, ini Amerika, bukan Malaysia… mungkin di negara kamu itu biasa nawar2, di sini bukan kebiasaannya kayak gitu.”

Duileeee… iya deeh, yang Amerika…

Di rumah berikutnya (which is rumah saya juga), Jas didiskon USD 100 dari harga USD 650 yang ditawarkan host family, padahal di iklannya dia gak bilang kalau harga negotiable. Fyi, beberapa iklan bilang kalo harganya negotiable. Kesimpulan, host family yang pertama bo’ong ;p

Madonna’s case (Filipino):
Madonna ngekos di rumah seorang keturunan Jerman seharga USD 710 untuk kamar dan makan. Jumlah yang acceptable untuk ukuran Hawaii Kai. Makan yang disiapkan adalah frozen foods, dan Madonna dipersilahkan untuk ambil sendiri makanan di dalam freezer tersebut.

Sekali itu host family-nya keluar kota, dan meninggalkan makanan yang cukup untuk beberapa hari. Tapi ternyata semua makanan itu sudah kadaluarsa. Ketika host family-nya pulang, Madonna laporan kalo dia beli makan di luar, karena makanannya sudah kadaluarsa. Reaksi host family-nya kira2 begini:”Ya ampuuunn…. Makanan kadaluarsa itu kan masih bisa dimakan. Saya aja yang orang Amerika biasa makan makanan kadaluarsa. Apalagi kamu yang dari Filipina. Makan biasanya gak higienis aja pake protes. Masih bagus saya kasih kamu makan.”

Madonna langsung naik pitam. Mo pindah rumah, males juga nyarinya. Belum pake acara ngepak barang. Mana tinggal dua bulan lagi, nanggung. Akhirnya Madonna melancarkan perang dingin. Host family gak ditegor sama sekali dan pintu kamar selalu ditutup biar dia gak liat muka host family-nya

Tom’s case (Vietnamese):
Tom ngekos bareng Hiroshi, gak jauh dari JAIMS. Tiap week end, mereka dilarang berada di rumah siang2, pokoknya harus keluar rumah. Hiroshi mah gak masalah, dia anak gaul. Tapi Tom anak rumahan. Bingung juga lah hay, wiken2 keluar rumah kemana. Alasan host family-nya: “Karena kalau wiken itu saya selalu di luar rumah, jadi saya gak bisa ngawasin kalian megang atau make barang2 saya seperti apa.”

Entah kelanjutannya gimana, sebulan berikutnya Tom diminta pindah dari rumah host family-nya, dengan kata2 perpisahan “Mulai semester depan, saya gak mau terima anak Asia lagi ah, saya mau orang2 Western aja, Jepang boleh lah.”

Sekarang Tom tinggal di kosannya Hide. Biar lebih mahal, tapi sebodo teing “Yang penting saya happy” kata Tom sambil nyengir

Untung host family saya baik hati. Dia malah bantuin saya nyari tanah buat nyuci alat2 masak bekas babi dan saya disiapin locker khusus untuk alat2 makan saya. Kalo tinggal di salah satu tempat ex-calon Jas, Madonna apalagi Tom, berani2nya menghina suku, agama, ras (and financial – soalnya 4 hal itu yang paling signifikan perbedaannya di sini ;p), bakal saya tampar mereka… plak plak plak… buk… DZIIIIIGGGGHHHH!!!!!

Advertisements

Responses

  1. yah.. begitulah bule… (bule kan hostnya). orang item aja dah berpuluh taun tinggal bareng masih dibedakan.. gimana asia kere yang baru2 aja mreka liat bentuknya….

    Like

  2. Kalo gak salah sih, host family-nya Tom keturunan Korea, 3rd or 4th generation gitu deh, mungkin karena dah lama di sini jadi serasa bule hehehe.Gue gak nanya detail ama Tom tentang ras host fam-nya, abis dia dah eneg banget ama mereka 😀

    Like

  3. ternyata oh ternyata..
    eh, tapi sesama orang indonesia pun yang namanya rasis tuh tetep ada..
    banyak malah..

    Like

  4. tapi sebodo teing “Yang penting saya happy” kata Tom sambil nyengir < ---- euleuh… euleuh geuning tom teh urang cicadas, geuning tiasa nyarios “sabodo teuing” bari nyengir 😀

    Like

  5. Urusan Tom dengan host familiy-nya ternyata tidak sesederhana itu.

    Beberapa hari yang lalu, Hide (sekarang housemate Tom) baru cerita kalau Tom diusir oleh host family-nya di suatu jam 10 malam. Dia dipaksa pergi dengan dianter ke JAIMS malem2.

    Untungnya malam itu Hide, Atsushi dan Makoto baru kembali dari nonton shooting stars di pantai agak jauh dari JAIMS. Mereka pulang kemaleman, karena ternyata pas mo pulang, pintu pagar sudah digembok dan mobil mereka gak bisa keluar. Terpaksa mereka nelepon Tricia yang rumahnya gak jauh dari situ, untuk jemput mereka. Setelah manjat pagar, Tricia nganterin mereka ke JAIMS.

    Sesampainya di JAIMS, ketiganya bingung ngeliat Tom ngejogrok di depan pintu JAIMS, lengkap dengan 2 kopernya yang besar, plus wajah yang marah dan syok. Hampir 2 jam mereka bertiga nemenin Tom yang akhirnya berhasil menguasai diri dan bercerita tentang pengusirannya oleh host familiy. Udah lah diusir, duitnya gak dikembaliin pula.

    Malem itu juga Hide langsung menelepon host family-nya karena di rumahnya ada 1 kamar kosong. Untung host family-nya langsung berbaik hati menampung Tom malam itu juga. “That’s what we called faith,” begitu kata host family-nya

    Seselesainya program ini, Tom akan lapor ke JAIMS untuk mengeliminasi host family-nya dari list host family JAIMS. Pengennya sih dia ngomong sekarang, tapi Hiroshi masih tinggal di sana, dan dia sudah bayar di muka sampai bulan Juli mendatang

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: