Posted by: lilyardas | May 5, 2007

Mar 5: Polynesian Cultural Center

Sebagai orang yang paling demen dengan kebudayaan, Polynesian Cultural Center merupakan tempat wisata yang paling saya suka di Hawaii. Gambaran besarnya, seperti Taman Mini, versi lebih kecil dan lebih professional (tentunya). Di PCC ini mereka mengakomodasi kebudayaan Polinesia, termasuk Hawaii. Lokasinya di luar Honolulu, di sebuah kota kecil bernama Laie, 2.5 jam perjalanan naik bus… capek deehhh…!

Latar belakang
Pengembangan PCC ini punya tiga tujuan utama: pelestarian budaya kepulauan Pasifik Selatan, pengumpulan dana beasiswa untuk mahasiswa Brigham Young University Hawaii (BYUH), dan pengembangan agama Kriten Mormons. PCC dibangun oleh The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints (LDS).

Agama Kristen Mormon berkembang di Hawaii sejak tahun 1800-an, dan menjadikan Hawaii sebagai pusat pengembangan agama Kristen Mormon di kepulauan Pasifik Selatan. Sebagai salah satu kegiatan pengembangan divisi pendidikan, dibangunlah sebuah college yang kemudian berkembang menjadi BYUH. Dengan adanya LDS Temple dan BYUH menjadikan Laie sebagai sebagai pusat kebudayaan ras Polinesia, yang akhirnya menimbulkan ide didirikannya PCC.

Saat ini 700 siswa BYUH bekerja di PCC, atau kira-kira 75% dari total pegawai PCC. Umumnya siswa yang bekerja di sana adalah penerima beasiswa penuh yang ditanggung oleh PCC. Mereka wajib kerja di PCC selama 19 jam seminggu (tidak termasuk latihan tari, meeting segala persiapan lainnya). Dana beasiswa ini diambil dari penjualan tiket dan merchandise yang dijual di PCC.

Pertanyaan saya adalah: Emangnya cukup kalau hanya bermodalkan penjualan tiket, secara biaya hidup dan operasional di Hawaii ini mahal? Ternyata JW Marriot dan jaringan hotelnya, adalah salah satu sponsor utama pengembangan PCC, secara JW Marriot dan keluarganya adalah penganut LDS juga.

Walaupun ada hubungan antara PCC, BYUH dan LDS, bukan berarti hanya mereka yang Polinesia dan beragama Kristen Mormon saja yang boleh bekerja di sana (tapi kayaknya penerima beasiswa sih harus orang Polinesia). Saya ketemu dengan Poniman, mahasiswa asal Indonesia yang sedang kuliah Political Science di BYUH. Dia kerja paruh waktu di PCC sebagai tour guide. Saya juga sempat ngobrol dengan seorang siswa BYUH di village Aotearoa, dia sih senang2 aja kerja di PCC, karena kerja di PCC gak kayak kerja, cuma disuruh nari doang. Apalagi lokasi PCC hanya 10 menit jalan kaki dari kampus dan asramanya.

7 villages
Yang namanya villages ini – kalau di Taman Mini namanya anjugan kali ya – tidak terlalu besar, masing2 village bisa menampung 200an orang, ada yang bentuknya rumah, ada yang semi amphitheater. Jarak antara satu village dengan yang lain juga cuma berjarak berapa langkah. Suasananya seperti kalau jalan2 di Singapore Zoo, tapi yang ditonton orang2, hehehe…

7 villages ini buka mulai dari jam 12.15-18.00. Tiap 30 menit mereka mengadakan Cultural Performance, Cultural Activities atau Family Activities. Ketika beli tiket, pengunjung dibagikan jadwal kegiatan masing-masing villages dalam bentuk brosur dan peta. Cultural Performance umumnya berupa pertunjukan singkat berupa tarian, nyanyian atau kegiatan entertaining lainnya. Cultural Activities berupa kegiatan interaktif di luar panggung seperti belajar memanah ala Tonga, belajar menyalakan api pake kayu ala Samoa atau belajar tari Hula ala Hawaii dan lain2. Family Activities merupakan kegiatan keluarga yang umumnya dirancang untuk anak2, setelah kegiatan nanti mereka dikasih stempel untuk setiap Family Activities (gak tau untuk apa, dapet hadiah kali ya?)

Berhubung padatnya acara, tidak semua kegiatan bisa diikuti. Karenanya, PCC menyediakan tiket terusan 3 hari, bila pengunjung ingin datang lagi. Tapi mengingat perjalanan pergi-pulang totalnya 5 jam, gak lah hayyy…. Sehari aja cukup. Jadinya kami mengutamakan menyaksikan Cultural Performance.

Samoa
Village pertama yang kami kunjungi adalah Samoa. “Talofa!” Begitu sapaan mereka, yang artinya “Halo!” Cultural Performance yang ditampilkan lebih merupakan pertunjukan one-man-show yang bercerita tentang kehidupan orang Samoa. Ceritanya sederhana sih, tentang orang Samoa yang minum air kelapa muda (di Hawaii kagak ada kelapa muda bo’, orang pantai yang aneh…), gimana cara marut kelapa dan gimana caranya manjat pohon. Tapi pemaparannya benar2 interaktif dan menghibur. Mulai dari ala pemarut kelapa yang disamakan dengan AK-47, bikin ritme musik dari proses marut kelapa, pemanjat kelapa yang kebanyakan gaya. Di sini saya ketemu orang Indonesia, ABRI, lagi training di Hawaii… Wah gaya euy, training militer kok ya di Hawaii. (Fyi, industri terbesar di Hawaii adalah turisme dan militer. Di tengah pulau yang seciprit gini, pangkalan militer US ada 9 pangkalan)

Setelah 30 menit presentasi, kita bisa menyaksikan Cultural Activities, seperti bikin api dari kayu, masak (yang umumnya dilakukan oleh pria) dan menenun keset. Kami gak lihat2 banyak di sini… abis di kampung banyak sih yang kayak gini hehehe…

Aotearoa
Ini nama lain dari New Zealand, yang suku aslinya Maori. Disini kami menyaksikan Powhiri (welcome ceremony) dan pertunjukan tari dan nyanyi menggunakan stik pendek (Tititorea) dan Bola2 bertali (Poi). Kayaknya sih ini village favorit saya dan Jas. Tarian dan nyanyiannya memang menghibur sih.

Cultural Activities yang diadakan adalah belajar main Tititorea, Poi dan Tato ala Maori. Jas sempat minta ditato (dicap doang sih sebenernya, dengan pattern Maori). Kami juga sempat belajar main Tititorea dan Poi. Tititorea adalah permainan anak2 Maori. Intinya adalah kepercayaan sesama teman, yang saling melempar dan menerima stik sepanjang kira2 15-20cm dalam waktu bersamaan. Untuk pemula, jelas susah, stik saya dan Jas tabrakan terus. Kami sempat kena omel sama yang ngajarin Tititorea, abis cekikikan melulu, stress bo’ stiknya kelempar sana kelempar sini. Mbak2nya bete kali ya, panas2 pake konstum Maori, susah2 ngajarin malah diketawain hehehe…

Permainan Poi kami coba juga. Gak gampang juga. Bola plastik dengan tali panjang diputar2 lewat kepala. Berapa kali kepala saya kejeduk bola. Untung bolanya cuma dari gumpalan kantong plastik. Gak lama, ibu2 dari Cina ikutan belajar main Poi, ternyata mereka lebih gape dari kami. Mungkin mereka sodaraan sama sirkus Cina kali ye hehehe…

Village Canoe Tour
Area PCC dibelah oleh sungai buatan. Atraksi Canoe dirancang sebagai atraksi tour dengan seorang pendayung sebagai guide-nya. Jas sempat deg2an minta ampun, takut kecebur, soalnya dia gak bisa berenang. Tapi pas dilihat, halah, sungainya cuma sebetis, semen semua pula… hehehe, namanya juga buatan.

Di canoe ini Jas heboh banget, gara2 kenalan dengan 2 Chinese Malaysian yang lagi liburan di Hawaii. Dia lebih heboh lagi waktu tau, guide kita siswa Malaysia juga yang kuliah di BYUH. Saya salut juga dengan PCC yang melatih siswa2 BYUH menjadi terlatih di bidang Hospitality, karena walaupun masih tingkat 3, guide kami ini komunikatif banget, dengan joke2 ringan dan segar

Marquesas
Nah, ini dia Cultural Performance yang lucu2 jijay… Karena di sini pertunjukan berburu babi! Enam orang penonton pria diundang untuk “berburu babi.” Setelah “babi”-nya ketangkep (ada orang yang pura2 jadi babi), digebukin sampai “mati”, lalu diikat dengan galah sebelum diangkut. Cara ngikatnya? Ucapakan kata sandi “Pig, hold the stick!” Dan sang babi “terikat” pada galah

Marquesas yang merupakan asal muasalnya orang Hawaii, malah tidak punya banyak kebudayaan. Bila village lainnya sibuk dengan Cultural Performance, Cultural Activities dan Family Activities tiap 30 menit dari jam 12.30-18.00, Marquesas cuma punya 2 kali Cultural Performance

Canoe Pageant Show
Nah ini dia paling keren. Jam 14.00-14.30 semua village “tutup toko.” Karena pada jam ini, PCC mempertunjukkan pagelaran tarian dalam kemasan Canoe Pageant Show. Masing2 village menari di atas canoe yang muncul satu per satu. Kebayang dah, yang dayungnya susah bener ya. Paling heboh sih Tahiti, dengan goyangan pinggulnya yang maut… berakhir dengan pendayung canoe-nya kecebur!

Videonya ada di sini (Moga2 gampang diunduh…. Saya baru tau kalau download itu bahasa Indonenesia-nya Unduh. Lha, kalo Ngunduh Mantu jadi Download Daughter-in-Law dong? Heheheh)

Tonga
Ini pertunjukan rada boring… Mungkin karena presenternya Inggrisnya gak jelas. Plus perut gak kompromi pengen nyetor ke kamar mandi. Walhasil, dari 30 menit Cultural Performance berupa atraksi drum (yang mirip seperti atraksi pukul bedug), saya cuma lihat setengahnya saja
Fiji
Ini juga agak2 boring. Mungkin karena tariannya mirip2 seperti tarian Papua, jadi tidak ada yang baru dari sini. Mungkin juga karena saya dan Jas udah mulai kecapean karena matahari panasnya minta ampun

Hawaii
Cultural Performance di Hawaii village ini diwakili oleh bapak2 yang menamakan dirinya Cousin Benny. Berbekal berbagai alat musik asli Hawaii, Counsin Benny menjelaskan latar belakang dan sejarah kebudayaan Hawaii dengan cara yang tidak membosankan. Termasuk penjelasannya tentang presepsi yang salah dari orang2 yang menyangka tarian Hawaii itu penuh dengan goyangan pinggul. Padahal tarian Hawaii lebih banyak menggunakan tangan yang menggambarkan alam dan perasaan. Sedangkan goyangan pinggul itu trade mark-nya Tahiti.

Pemaparannya ditutup dengan tarian Hula oleh seorang siswa BYUH yang diiringi Cousin Benny dengan petikan gitar kecil yang disebut Ukulele (sama dong, di Indonesia namanya Ukulele juga..)

Sebenernya di village Hawaii ini saya pengen ikutan Cultural Activities yang berupa belajar tari Hula dan main boling ala Hawaii, sayang waktu kami gak cukup

Tahiti
Menuju Cultural Performance di Tahiti village kami sampai harus lari2. Karena menurut brosur pertunjukan Tahiti ini selalu paling ramai, dan di pertunjukan sebelumnya kami gak kebagian tempat sampai harus keluar ruangan.

Di Tahiti ini baru seru. Selain musiknya heboh, tariannya juga heboh. Goyangan pinggulnya Inul kalah deh (tapi gak kampungan hehehe…) Penonton ditantang untuk ikutan menari goyang pinggul

Acara jalan2 kami di PCC ditutup dengan? Shopping doooonnggg… Kami mampir dulu di gift store seputaran PCC, sebelum menghabiskan waktu 2,5 jam pulang naik bus menuju rumah di Hawaii Kai

Advertisements

Responses

  1. hi Arlina,
    Saya Angeline akan berangkat ke JAIMS 2009 Spring. Wahh asik sempet jalan2 yaa…
    Kira2 memungkinkan gak utk jalan2 ke North Shore atau ke pulau lain di HAwaii?

    Ceritanya terutama persiapan ke JAIMS sangat membantu. Thanks! 🙂

    Like

  2. congrats ya angeline, enjoy hawaii… waktu itu anak2 sempet ke Maui, kalo gak salah pada abis sekitar usd 400, tapi modal ndiri jangan ngandalin dari uang saku jaims.

    kalo north shore rasanya sih gak ada yang ke sana, secara ke LA aja kalo gak salah makan waktu 4 jam

    Like

  3. Saya lagi mo nyari2 poto saya ketika menjadi tour guide di PCC buat dapetin visa P3 di Jakarta Embassy, eh ketemu ama website anda. Sangat jelas cara anda bercerita dan Jujur. Nah tour guide nya yg orang Indonesia itu adalah Poliman. Dia sekarang di Bali bekerja. Bagi orang Indonesia yg ingin ke Oahu or tepatnya PCC, dan punya modal ngepas, yah kontak aja Indo students di BYUH. Mereka dapat kartu diskon u/ PCC. Saya membantu banyak Indos. Cheaper and fun with Indonesian.

    Like

  4. yaaa… saya telat tau :D… coba tau dari dulu, kan bisa menghemat uang masuk PCC yang mahal itu hehhe… tapi biar mahal, worthed kok

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: