Posted by: lilyardas | April 21, 2007

Apr 20: School of Law

Hari ini kelas Intercultural Negotiation JAIMS bergabung dengan mahasiswa jurusan hukum di School of Law University of Hawaii. Dosen kita Profesor Barkai memang asalnya dari UH. Bapak professor ini orangnya agak ajaib. Kalau mengajar di JAIMS, dia selalu berbekal travel bag segede gabrung lengkap dengan boneka2 bebek, burung nuri, ikan dan lain-lain. Ketika dia mengajar, kita seperti menonton Puppet Show, tentang percakapan bebek dan burung hantu, tentang negosiasi antar anjing, dan sebagainya. Ketika negosiasi sukses, dia meniup balon yang setelah ditiup bentuknya jadi kue ulang tahun lengkap dengan 6 buah lilin. Memang ajaib deh bapak satu ini. Semua teman sekelas saya berkomentar, “Kayaknya gak ada deh professor yang kelakuannya kayak gini di negara gue, hehehe…” Kayaknya bapak professor satu ini sadar, kalau dia mengajar biasa, anak2 bakalan terkantuk2.

The School of Law
Di UH kita melakukan role play dengan para mahasiswa School of Law. Saya sempat bingung melihat mahasiswa School of Law, soalnya rata-rata mereka lebih tua dari kami. Usut punya usut, ternyata pendidikan School of Law di US (dan juga di Canada) berbeda dengan pendidikan sekolah hukum di Indonesia. Di US, School of Law adalah setara dengan level Graduate atau Master, tidak ada yang namanya Bachelor Degree in Law. Untuk masuk ke School of Law ini, mahasiswa harus minimal sekolah setingkat Bachelor Degree 4 tahun, dan minimal usia 22. Tapi pada prakteknya biasanya mereka sudah kerja dulu beberapa tahun, atau sudah punya Master di bidang lain. Menurut Professor Barkai, secara pribadi dia menyarankan kalau mau mendaftar School of Law, sebaiknya mengambil Bachelor Degree jurusan Science, Engineering atau Medical/Dentistry, karena umumnya mereka lebih kuat dalam segi analisa. Ada juga sih yang Bachelor Degree-nya dari Literature, Social Science, Political Science atau Pre-Law, tapi umumnya daya analisa mereka tidak sekuat mereka yang berasal dari ilmu pasti

School of Law memakan waktu 3 tahun, setelah itu mereka harus mengambil ujian Bar Examination yang di tingkat negara bagian untuk mendapatkan sertifikat sebagai J.D.(Jurist Doctor). Ijin sebagai J.D. ini hanya berlaku di masing2 negara bagian. Jadi J.D. lulusan Hawaii hanya bisa berpraktek di Hawaii, tidak bisa di negara bagian lainnya. Tidak semua bisa lulus dalam tes J.D. ini, di Hawaii, tingkat kelulusannya hanya 60-80%.

Lulus dari Bar Exam, seorang J.D. masih harus magang dulu jadi Legal Trainee dulu selama minimum 2 tahun baru bisa jadi Lawyer dan ikut ke pengadilan

Btw, foto di atas adalah foto patung seorang dosen sedang diskusi dengan 2 mahasiswanya. Saya dan Makoto pura2 ikutan diskusi, hehehe…

The Court Room
Professor Barkai ini tampaknya memang sadar kalau siswa JAIMS itu berbanding lurus dengan turis, hehehe…. Maklum, Bapak asal Hungaria ini sudah memengajar di JAIMS sejak 15 tahun yang lalu. Kali ini dia mengajak kita tour ke moke-up Trial Court Room. Ruangan ini memang diset seperti ruang pengadilan sebenarnya, sehingga bisa dipakai untuk role play bagi para mahasiswa School of Law. Jelas, seperti yang diduga Professor Barkai, kami sibuk berfoto ria, pura2 jadi Hakim, Jaksa, Juri dan sebagainya

Berbeda dengan sistem hukum di Indonesia, di US, Canada dan beberapa negara di Eropa memakai Sistem juri. Tim juri terdiri dari 12 orang awam, yang harus mendaftar, kemudian mengikuti tes psikologi. Setelah lulus tes psikologi, akan dipilih 14 orang (2 orang cadangan) untuk “diwawancara” oleh Pengacara, Jaksa dan Hakim. Umumnya wawancara mengacu kepada latar belakang juri, hubungan juri dengan terdakwa atau pendapat mereka tentang kasus tersebut. Bisa juga hanya sekedar perasaan tidak suka Pengacara atau Jaksa secara personal terhadap juri tersebut, mulai dari wajahnya, rasnya, senyumnya, atau hal-hal lain yang personal (disebut sebagai “based on cause”). Baik Pengacara, Jaksa dan Hakim punya hak untuk mengatakan tidak setuju dengan juri tersebut. Tapi khusus untuk Pengacara dan Jaksa, tentunya harus pintar-pintar mengeluarkan anggota juri, karena mereka harus berstrategi, kira-kira juri mana yang pro dengan mereka. Bila Pengacara tidak setuju dengan salah satu juri, maka Jaksa tidak punya hak untuk memanggil juri itu kembali. Begitu pula sebaliknya.

Pekerjaan jadi Juri ini sebenarnya tidak terlalu enak. Mereka hanya dibayar USD 50 per hari, dengan jam kerja tidak jelas, tergantung dengan lama tidaknya sidang, plus rapat-rapat internal berhubungan dengan sidang. Bandingkan dengan kerja part-time di supermarket yang dibayar USD 8-10 per jam dengan jam kerja 4 jam sehari. Sementara orang kantoran bisa mendapatkan bayaran USD 100-150 per hari. Jadi bisa dibayangkan kan, kualitas personal dari para Juri ini seperti apa. Ini yang juga menjadi salah satu isu hukum di US, kualitas para Juri. Rata-rata orang tidak mau jadi juri, karena bayarannya kecil dan hanya duduk seharian di kursi. Dalam mengambil keputusan, keduabelas juri tersebut harus sama-sama mengatakan “guilty” atau “not guilty.” Tidak ada voting didalamnya

Mildred, teman saya, yang juga seorang Jaksa di Philippines, sempat bertanya tentang keamanan para Juri tersebut. Sayangnya menurut Professor Barkai tidak ada, hanya para Hakim dan Jaksa yang biasanya memiliki atau disediakan Body Guard. Wah, saya sempat kepikiran, dengan penduduk Hawaii yang hanya 1 juta orang, tentu saja kemungkinan terdakwa dan relasinya untuk kenal dengan salah satu Juri ada dong. Apalagi di Hawaii tingkat kriminalitasnya lumayan juga. Dalam 1 tahun terakhir tercatat 250 criminal trial dan 3 civil trial. Kalau begitu, bila seorang penduduk Hawaii punya banyak relasi, mendingan jangan jadi Juri, apalagi criminal trial, bahaya tuh.

Kesimpulannya, emang jadi Juri gak ada untungnya…

Professor Barkai sempat bertanya kepada kami, dimana seharusnya Jaksa dan Pengacara duduk? Dengan pintar kami menjawab, “Jaksa di kanan, pengacara di kiri” Tapi ketika ditanya, kenapa di kanan dan kenapa di kiri? Kami pun menjawab dengan ‘pintar’, “Karena di film2 begitu!” Hahaha… ternyata Jaksa dan Pengacara gak harus duduk di kiri atau di kanan, tapi tergantung dimana letak tempat duduk Juri, yang disebut Jury Box. Jaksa dan Saksi, harus duduk di dekat Jury Box

Sistem Juri ini hanya berlaku di Trial Court (Pengadilan Negeri). Sementara di Pallet Court (Pengadilan Tinggi), berlaku Sistem 3 Hakim tanpa Juri. Sedangkan di Supreme Court (Mahkamah Agung) menggunakan Sistem 5, 7 atau 9 Hakim.

Advertisements

Responses

  1. dhanny7:
    Lily, gak juga begitu. JD dan exam bar itu 2 hal yang berbeda. Kalau udah JD belum tentu admitted to the bar. Tapi memang begitu kalau di US, harus punya first degree dulu baru boleh sekolah hukum. Melbourne unviersity mulai tahun ini ikutan begitu. Kalau proses milih jury namanya voir dire. Udah pernah nonton film ‘runaway juri’? Tuh bagus. kalau masalah juri. Diakhir proses sidang hakimnya nanya, what say you ? Aneh ya bahasa Inggrisnya. Nanti jubir nya bilang, on the first account on the first degree murder jury found defendant not guilty 😀

    si cantik lily:
    wah, kalo gitu gue salah nangkep dong cerita pak dosen.

    dhanny7:
    Gak juga, 90 persen benar, dan untuk orang awam kesalahan itu bisa dimaklumi 😀 jadi memang gak ada LL.B di US. Kita nanti kalau sekolah hukum dapat gelar JD. Setelah dapat gelar JD nya terus kita ambil ‘articles’. Articles ini seperti magang gitu deh di kantor pengacara. Setelah itu semua dilalui, terus kita ikutan bar exams, tergantung di state mana kita mau praktek, kalau di Hawaii ya license cuma bisa di hawaii

    si cantik lily:
    Jadi sebelum ambil exam Bar, udah harus JD?

    dhanny7:
    Iya harus JD dulu

    si cantik lily:
    wah, pak dosen bilang harus lulus exam dulu baru boleh magang. makanya pada nanya, parameternya apa kalo udah magang 2 tahun, ada another tes lagi apa gak

    dhanny7:
    Well mungkin aja dia yang bener. Tapi ini setahuku di Australia lulus dulu, magang, terus bar exams. Kalau bar exams paling susah itu New York Bar, susaaaahhhh banget, katanya sih. Orang pinter jadi lawyer kalau di negara maju. Kalau di Indonesia, kalau udah gak keterima di ITB, daftar sekolah hokum 😀 kebalikan

    si cantik lily:
    curhat nih?

    dhanny7:
    :))

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: