Posted by: lilyardas | December 15, 2006

A Perfect Wedding, Perlukah?

Ketika kami merencanakan menikah, calon mertua sudah mengusulkan, bagaimana kalau pernikahan kami cukup dengan akad nikah saja, tidak perlu dengan pesta resepsi besar-besaran, mengingat kami berdua anak yatim (saya yatim piatu pula) dan nilai keberkahan suatu pernikahan yang tidak berbanding lurus dengan pesta pernikahan itu sendiri.

Diantara rasa setuju dan tidak setuju, sempat terbersit dalam pikiran saya, kasihan kakak2 dan adik2 ibu saya kalau kami tidak mengadakan pesta, ucapan miring seperti “mentang-mentang adik/keponakannya yatim piatu, kok gak diurusin” pasti akan bermunculan. Jadi saya paksakan diri saya untuk melakukan survey pesta pernikahan sederhana. Ternyata kalau kami mengundang semua saudara dan relasi, yang jumlahnya lebih dari 1.000 orang, kira-kira akan menghabiskan dana sekitar 60 juta rupiah! Ya,ampuuunn…. Itu pun di suatu tempat yang seadanya di kawasan Senen. Walah, kok gak tega ya rasanya, menguras semua tabungan walau untuk pernikahan saya sendiri, belum lagi harus pake acara pinjem duit segala. Sementara sedekah yang selama ini saya berikan untuk orang tak mampu, kayaknya juga masih terbatas

“Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Abdurrahman Ibnu Auf, Semoga Allah memberkatimu, Lakukanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing. (HR. Muttafaq Alaihi)”

Calon suami mengingatkan, jangan sampai kami terjebak untuk mempersiapkan hari pernikahan, tapi melupakan hal-hal yang perlu dipersiapkan dan disepakati setelah menikah. Karena walimah yang bermakna undangan / hidangan makan sesungguhnya bukan bagian dari rukun atau syarat syahnya sebuah akad nikah. Namun yang paling penting intinya adalah mengumumkan kepada khalayak bahwa kedua insan itu kini telah menjadi suami istri.

Setelah diskusi dengan calon suami, kami setuju untuk hanya melaksanakan akad nikah saja, dengan walimah alakadarnya setelah akad nikah selesai. Yang diundang cukup keluarga terdekat, teman2 kantor dan teman2 SIF (organisasi dimana kami bertemu), kira-kira 300-400 orang cukup lah. Komentar-komentar bermunculan

“ Plin-plan, kemaren mo resepsi, sekarang cuma mo akad aja”
” Kok undangannya sedikit? ”
” Kok gak pake pelaminan? ”
” Kok gak bikin resepsi? Gue aja yang gak punya duit masih bisa bikin resepsi, masa elu gak?”
“Ya gak pa-pa lah, bikin resepsi, toh nanti ada angpaw-nya juga, biar buat bekal ngontrak rumah”
” Jangan lupa ngundang si Anu lho, dia itukan teman alm Mama waktu SD ”
” Jangan lupa mencadangkan 100-200 porsi makanan lho? Jangan sampe makanannya kurang, malu kalau sampai makanan kurang” (walaupun tidak setuju, akhirnya saya turuti daripada ribut, walaupun akhirnya menyesal, karena si 100 porsi makanan itu akhirnya bersisa dan mubazir, maafkan aku ya Allah)

Semua sibuk memberikan ’ponten’ terhadap rencana kami yang memang gak standar, lumayan bikin stress deh. Alhamdulillah, banyak juga saudara dan teman yang mendukung, termasuk kakak tercinta yang di luar perkiraan, benar-benar pasang badan untuk setiap komentar miring yang datang dari berbagai pihak, plus tahan kuping dan jago ngeles kalau ada yang complaint karena gak diundang (thank you sis)

“ Biarin aja lah, orang mo ngomong apa, toh yang mo nikah kami, emang mereka pada mikir apa, setelah nikah kamu bakal tinggal dimana ”
“ Gue nikah sampe ngabisin 100juta lebih, toh abis nikah gini-gini aja, pusing malah nyari duit buat hidup ”
“ Dimana-mana orang mo nikah emang gitu, semua jadi sibuk mengambil andil, anggap saja itu suatu bentuk perhatian ”
” Jangan lupa undan anak yatim ya, Ly. Jangan membagi kebahagiaan dengan orang2 yang berpunya, anak yatim berhak untuk dapet kebahagiaan juga”

Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,?Dan seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, dimana orang yang mendatanginya karena butuh (orang miskin) dilarang makan dan orang yang (sebenarnya tidak butuh (orangkaya) malah diundang.? (HR. Muslim)

Untungnya saya ‘terselamatkan’ dengan suatu penyakit kecil nan ajaib bin ngeselin, yang membuat saya harus dioperasi dan bedrest selama 2 minggu menjelang hari H. Selamet deh, komentar-komentar miring menghilang, berganti dengan empati 🙂

Minggu ini sepupu saya akan menikah, walaupun dia mengikuti pola standar dengan menggelar resepsi, tapi ternyata komentar-komentar juga bermunculan mengenai persiapan pesta tersebut. Kembali saya dan kakak saya nyengir, ternyata memang… mo sesempurna apa pun suatu pesta pernikahan, tetap aja ada yang salahnya . Saya cuma bisa berdoa, semoga pernikahannya berjalan lebih mulus dan makanannya tidak mubazir seperti acara walimahan saya

”Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.? (QS. Al-Isra` : 27)”

Foto kawinan tanpa pelaminan. Banyak yang muji karena kesederhanaan acara, tapi ada juga yang nyela karena terlalu sederhana, hehehe…. Semoga kesederhanaan menjadikan keluarga kami menjadi keluarga yang taqwa. Amin

Advertisements

Responses

  1. mentang2 kerja di bilang survey2an..jadi sebelum nikah bikin survey juga.. :p

    tapi kemaren itu asyik koq..malah jadi jelas, khusuk dan berkesan..

    Like

  2. gak bilang2 ada blognya…btw.. kawinan.. kata ibuku, ‘bagus’ jadi omongan, ‘gak bagus’ juga jadi omongan. yang penting orang yg kawinnya senang aja.. gimana2 jg jadi omongan. hehehehe

    Like

  3. nikah??? tradisi n budaya indonesia ga kenal pun klo bisa di undang…. hehehehe… saking kalo pesta hanya utk mengejar gengsi… padahal diajarkan oleh islam kita utk tdk mubazir…

    lagian nikah itu kah ibadah yg penting rukun n wajib nikah udah cukup… akad lebih penting drpd resepsi… sdgkan tujuan resepsi utk mengabarkan kpd kerabat klo kita sdh menikah agar tdk terjadi fitnah…

    apakah kerabat itu hrs smua org kita undang???? rasanya tdk dimana kerabat itu hanyalah org2 yg berada disekitar kita spt keluarga besar n tetangga serta teman2 yg sehari2 bersama2 dg kita….

    lagian kehidupan setelah ijab kabul yg seharusnya lebih dibuat bahagia drpd satu hari menghabiskan dana n mubazir tp setelahnya tdk ada kebagian….

    Like

  4. setuju…mo dibikin resepsi yang mewah ataupun yang simpel, tetap saja akan dikomentari “begitu begini” ama keluarga besar…
    saya memilih “menulikan telinga” dan tetap dengan konsep pernikahan simpel…
    yang penting, adalah bukan seberapa mewah resepsi pernikahan,tapi seberapa lama pernikahan itu…

    Like

  5. saya juga mau, tp tidak dengan ortu dan camer tampaknya hehehe……gimana ya?

    Like

  6. Like

  7. Assalmualaikum Mba’ Lily, perkenalkan nama saya Rahmi.

    Boleh donk Mba’ saya tanya2 lebih detail ttg persiapan pernikahan yang Mba’ ceritakan diatas. Kalau bisa saya minta email Mba’ Lily.

    Terima kasih

    Wassalam

    Like

    • persiapan apa ya?

      Like

      • Mbaa boleh minta kontak nomer mbaa ga? Aku mau konsultasi nih. Hehe

        Like

      • Wah maap, saya bukan wedding consultant… Hehehe, sorriiii…

        Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: