Posted by: lilyardas | December 13, 2006

The Tiger and The Snow


Sudah lama saya dan suami tidak kencan keluar rumah. Kali ini tujuannya adalah nonton, pas banget dengan jadwal Jiffest di Goethe Haus, filmnya The Tiger and The Snow (Roberto Benigni). Pulang kantor, kami janjian di Masjid Cut Mutia dan shalat magrib di sana. Rada skeptis juga sih, bakalan dapet tiket, mengingat film-film gratisan ala Jiffest biasanya ramenya minta ampun.

Tapi rupanya keuntungan ada dipihak kami. Tiketnya masih banyak tersisa. Senang dong. Heran juga, mungkinkah karena lokasi Goethe Haus di Menteng ini gak terlalu mudah dijamah dibandingkan tempat-tempat Jiffest lainnya? Atau emang gak laku? Mengingat film ini sempat diputar di 21, tapi hanya beberapa hari. Apesnya waktu itu kesibukan kantor lagi tinggi-tingginya, jadi gak sempat nonton film tersebut dengan suami tercinta.

Ceritanya sebenarnya bersetting suram. Tentang seorang penyair bernama Attilio (Roberto Benigni) yang tergila-gila dengan seorang wanita bernama Vittoria, tapi ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Suatu saat Attilio mendapat kabar dari sahabatnya, Fuad (Jean Renno – heran nih orang main di film Hollywood iya, Hong Kong iya, Prancis iya, eh sekarang film Italia… Renno sendiri orang Prancis) bahwa Vittoria kecelakaan akibat ledakan di Baghdad dan nyaris tak terselamatkan karena keterbatasan obat. Mulai lah inti film bercerita, tentang upaya Attilio untuk sampai di Baghdad dan berupaya menyelamatkan Vittoria. Proses ini lah yang ironis tapi membuat penonton terbahak-bahak. Mulai dari kebohongan Attilio sebagai seorang dokter, agar dapet tiket ke Baghdad via Red Cross, unta yang ‘cantik dan tidak tuli’ yang menenami Attilio berjalan kaki sejauh 50 km dari perbatasan Baghdad, ‘senjata pemusnah massal’ versi Attilio, medan ranjau, sampai masker/kacamata selam yang Attilio pakaikan ke Vittoria untuk mendapatkan oksigen murni.

Hebatnya di film ini Benigni tidak berpihak baik dengan Amerika, maupun dengan Saddam. Dari sudut pandang Benigni, Amerika dan Saddam ada baiknya, tapi lebih banyak arogannya, intinya yang sengsara ya rakyat Irak itu sendiri

Singkat cerita, Vittoria terselamatkan dan Attilio dideportasi kembali ke Italia. Ending yang cukup singkat dan smooth, tidak bombastis seperti film-film Hollywood atau Indonesia pada umumnya.

Pokoknya kalau belum nonton, rugi deeeehhh…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: