Posted by: lilyardas | November 28, 2006

Copet nyebelin

Senin minggu lalu (20 Nov), rasanya maleees banget pergi ke kantor. Tapi sebagai pegawai yang baik, saya paksakan juga untuk pergi, dengan rok span sebagai pengganti koleksi celana panjang yang belum kering. Di atas Mikrolet M37 Pulo Gadung-Senen, saya keluarkan HP Samsung C-210 untuk meng-sms kakak ipar, mengabarkan bahwa bunda tercinta sudah selamat sampai di rumah saya. Seorang Bapak berbaju hansip (tanpa emblem) yang duduk di samping kiri saya, mencuri-curi lihat isi sms saya. Nih orang ngapain sih, pikir saya.

Baru 10-15 menit mikrolet berjalan, si Bapak hansip mendadak bersin-bersin sampai muncrat sana-sini, termasuk ke saya. Jijik dengan ingusnya yang muncrat sana-sini, saya bergeser ke pojokan, pas di belakang supir. Pada saat yang bersamaan, seorang Bapak disamping Bapak hansip tadi, menanyakan ke saya, pukul berapa sekarang. Sebagai manusia yang sopan, saya menjawab si Bapak tadi, setelah melihat jam tangan saya.

Seorang mbak2, yang duduk di depan saya sibuk memanggil saya. Tapi ketika saya tanyakan kepada dia, ada apa, dia hanya diam. Heran, kenapa pada saat yang bersamaan semua orang sibuk grasak-grusuk sih, pikir saya.

Ternyata keputusan saya untuk bergeser ke belakang supir, dan menjawab pertanyaan jam, salah besar. Tanpa saya sadari, seorang pemuda yang duduk membelakangi supir (dekat pintu, tepat di depan dengkul saya), merogoh isi tas saya dan dengan sukses mengambil HP saya yang February besok tepat berusia 2 tahun. Setelah si Bapak hansip, si penanya jam dan si mas2 yang duduk dekat pintu turun, baru saya ngeh, rupa2nya si mbak2 tadi berniat memberi tahu saya, tapi takut si gerombolan pencopet bertindak agresif.

Heran, kok saya sampe bisa ditipu gitu ya? Segera saya turun ke wartel terdekat, memberi tahu kantor, kakak dan suami tercinta. Saya sampe nangis saking kesalnya. Bukan kesal karena HP tersebut hilang, tapi kesal karena kok ya bisa2nya saya ditipu mentah2 oleh gerombolan pencopet itu. Suami tersayang segera menjemput ke wartel yang saya maksud, dan memeluk saya. Duh, ini lah rupanya berkah punya suami, ada yang meluk dikala hati sedang gundah J. Dia hanya berkomentar ”Semoga kamu mengikhlaskan HP yang hilang itu, semoga saya bisa menjadi sarana bagi mencopet untuk bertobat dan menjadi orang baik, bagaimana pun caranya” Duh, Cinta… kamu itu manusia apa malaikat sih?

Ketika saya cerita ke sepupu saya, dia bilang, sekarang emang lagi tren, kalo orang mo nyopet, akan ada tim yang seksi bikin ribut, untuk mengalihkan perhatian.

Alhamdulillah, seminggu sebelumnya saya baru dapet rejeki tambahan dari kantor. Langsung dana segar tersebut saya belikan HP malam itu juga. Modelnya sama, HP Samsung C-210. Loyal banget ya?

Tapi ternyata cerita tidak sampai di situ. Hari Rabu (22 Nov), ketika hendak turun dari Metro Mini 15 Senen-Setiabudi, mendadak dua orang Bapak yang duduk tepat di dekat pintu, berteriak2 sambil menunjuk kaki saya. Yang satu malah memegang tisu, sambil seolah2 hendak mengambil sesuatu dari kaki kiri saya. Saya jadi ikut2 merunduk, sambil memegang tas di tangan kanan saya. Mendadak saya inget cerita sepupu saya. Cepat2 saya toleh ke tas saya di tangan kanan. Benar saja, seorang Bapak bergaya karyawan swasta sedang memegang retsleting tas saya. Segera saya tepis sambil bersuara keras ”Ngapain nih?” si bapak kaget, dan pura2 merunduk menepis sesuatu di dekat mesin (padahal di dekat mesin gak ada apa2). Segera saja saya lompat, turun dari Metro Mini andalan saya ini.

Huh, emangnya enak, dicopet dua kali dalam seminggu….!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: