Posted by: lilyardas | August 28, 2006

Masjid Agung Sunda Kelapa, 30 Juli 2006


Biduk segara angkat sauh
Adakah kita siap mengayuh,
Menyusul niat yang telah berlabuh di dermaga jauh
Menyambut semua pengikut jejak Musthofa sang mulia

Tak luas besar memang
Sekedar sampan untuk berdua
Tapi rela akan membuatnya lega tak terduga
Seperti syukur yang akan mengubur
semua risau dengan hibur

Dan bila saatnya tiba
Sang Pemilik mungkin menitip awak geladak
Menyiangi lirih sedih jadi tawa tergelak
Mengganti nyanyi sunyi jadi derai gembira
Membasuh peluh penuh keluh
hingga luruh seluruh
Namun jangan terlena.
Mereka dicipta bukan jadi pembunuh waktu yang kita punya
Sekedar menunggu masa, menjadi laksamana di bahtera yang beda.

Kini..
Sebelum lupa dan beranjak,
ingatlah pesan semua tauladan dan bijak
kapal manapun takkan pernah maju
Bila semua angin deru jadi memberi ragu
Bila setiap gelombang datang dihadang dengan meradang
Kemudian Melempar teriak pada setiap riak
Atau mengadu gerutu pada setiap karang batu
Lantas menuding mendung sebagai pengirim murung.

Maka pada saat kita dihinggap burung bingung
diombang ambing bimbang yang mendenging ,
Dihampiri petir yang membuat khawatir
Diledek gledek yang mengejek
Atau Dikejar gulita yang mencuri pelita

Katakan saja!
“Bismillahi tawakalna, atas namaNya
semua badai pasti jadi gerimis yang sirna”

Elpi Nazmuzzaman
Juli 2006

Advertisements

Responses

  1. mmm…
    🙂

    Like

  2. Kereeeen…..
    so far gw blum menemukan ‘puisi nikahan’ sebagus ini..
    – si upay –

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: