Posted by: lilyardas | April 25, 2006

Kompetisi Taksi Menggebuk “Argo Mulut”

Published in Kompas Jabar Daily Newspaper, April 25, 2006

 

 

November 2005, pertaksian Bandung diramaikan oleh hadirnya taksi Blue Bird. Ramai karena jumlah armada taksi bertambah, sekaligus riuh oleh demo penolakan. Terakhir, pada 12 April 2006, Walikota Bandung menguranig jatah taksi tersebut dari 200 unit menjadi setengahnya. Keputusan yang diambil dalam pertemuan yang tidak melibatkan konsumen.

 

Sudah menjadi rahasia umum, taksi kota Bandung terkenal banyak yang butut, tanpa AC dan lebih mengesalkan lagi adalah ”argo mulut”. Kondisi yang membuat konsumen harus mengeluarkan ekstra energi untuk adu tawar dan sering  berubah menjadi adu gerutu. Supir menggerutu tentang kesulitan mengejar setoran dan penumpang menggerutu mengenai sulitnya mendapat pelayanan bermutu.

 

Hadirnya alternatif pilihan taksi dengan standar pelayanan yang lebih baik seakan menjadi penyegar bagi konsumen. Namun di sisi lain kehadirannya mengganggu kue pendapantan pemain lama dan dituduh merusak persaingan usaha karena dianggap teu akur jeung dulur di antara sesama supir.

 

Fenomena ini menarik dikaji melalu persaingan usaha dengan kerangka UU no 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Betulkan kehadiran pendatang baru merusak persaingan usaha atau justru menjadi cara tepat dan efisien memperbaiki iklim pertaksian kota Bandung?

 

Persaingan tidak sehat?

 

Dishub kota Bandung telah memberikan izin operasi kepada 11 perusahaan termasuk Blue Bird untuk 1800 unit taksi dari 2000 kuota yang ditetapkan SK Gubernur tahun 1997. Lebih dari 20% diantaranya dianggap tidak layak (Tribun Jabar, 23 Januari 2006)

 

Bila kuota mencerminkan kebutuhan nyata, maka pasar taksi masih dapat dimasuki pelaku baru. Logikanya pengusaha tidak akan masuk pasar bila tidak dapat meraih untung normal. Dengan demikian, sulit mendukung anggapan bahwa tarif taksi Bandung harus naik (karena terlalu rendah) bila masih ada perusahaan taksi yang mau beroperasi dengan pelayanan yang layak.

 

Namun bila kuota tersebut sekadar pembatas, sementara jumlah penumpang lebih rendah daripada jasa taksi yang tersedia, maka persaingan usaha taksi menjadi lebih sengit. Dengan standar pelayanan minimum sama, setiap perusahaan didorong memangkas biaya agar lebih efisien atau harus menambah pendapatan dengan menarik konsumen lebih banyak.

 

Salah satu potensi perilaku persaingan yang tidak sehat dalam pasar yang jenuh adalah tindakan jual rugi, menerapkan tarif lebih rendah dibandingkan rata2 biayanya. Tujuannya adalah mengusir atau menghalangi pesaing. Kondisi tersebut mustahil terjadi karena tarif taksi ditentukan oleh pemerintah, bukan pengusaha

 

Oleh karena itu persaingan memperebutkan konsumen justru memacu persaingan kualitas yanan. Pengusaha berusaha mengambil pangsa pasar pengusaha lain yang tidak mampu memenuhi kehendak konsumen.

 

Saat ini jumlah pengguna jasa taksi Bandun gmungkin terbatas dan tumbuh perlahan. Namun pasar potensialnya dapat tumbuh lebih cepat seiring meningkatnya pendapatan warga. Ditambah lagi kehadiran para pelancong di akhir pekan. Mereka tak mau bersusah payah menghafal rute angkot sehingga mudah digaet menjadi pengguna taksi sekaligus memperbesar pasar taksi.

 

Image taksi dengan layanan buruk dapat dipastikan menjadi faktor penghambat penumpang potensial tersebut menjadi pengguna taksi. Oleh karenanya, pertaksian kota Bandung malah terasa jenuh dan tak tumbuh. Selain itu keengganan pelancong menggunakan taksi justru mendorong penggunaan mobil pribadi dari luar kota. Tak heran bila Bandung lebih macet dan penuh polusi di akhir pekan.

 

Kartel

 

Kemungkinan kedua perilaku persaingan tak sehat dalam pasar jenuh adalah tindakan kartel. Untuk menghindari kerugian, pengusaha melakukan pengaturan agar tak saling bersaing dengan cara bersepakat harga, membagi wilayah atau memboikot pelaku tertentu.

 

Hal tersebut dapat dilakukan dengan membagi wilayah pengeteman, menghalangi bahkan mengusir taksi lain yang melintas untuk menaikkan penumpang di jalan. Tertulis atau tidak tertulis bentuk kesepakatan tersebut dapat dianggap melanggar pasal 9, 10, dan 11 UU No 5 tahun 1999.

 

Berbeda dengan pasar persaingan sempurna, konsumen yang berhadapan dengan kartel tak lagi berlaku raja, melainkan budak yang menanggung beban biaya pengusaha yang beroperasi tidak efisien.

 

Ketidakmampuan perusahaan untuk beroperasi secara layak malah menghukum konsumen dengan tarif di luar kewajaran. Konsumen jadi turut menanggung derita sopir yang tak kunjung sejahtera karena sistem pengelolaan perusahaan. Juga sengsara karena dibatasi pilihannya.

 

Hadirnya pengusaha baru yang efisien dapat menjadi koreksi pasar secara alamiah. Pengusaha tersebut mengganggu koordinasi antara pelaku kartel karena sulit diajak kompromi serta memberikan alternatif pada konsumen. Konsumen diberikan daya tawar dalam menghadapi kartel.

 

Pada gilirannya, pengusaha yang tak mampu secara layak akan keluar dari pasar. Bukan karena diusir oleh pengusaha lain, melainkan karena ditinggalkan oleh konsumen.

 

Entah siapa pun itu, kehadiran pelaku yang lebih efisien justru dapat bermanfaat sebagai obat untuk perbaikan pertaksian kota Bandung. Konsumen mendapatkan pilihan, sopir dapat memilih perusahaan yang layak memberi gaji, dan pengusaha lama dapat meniru bagaimana mengelola secara lebih efisien tanpa perlu mengeksploitasi pengemudi maupun konsumen. Alih-alih merusak persaingan, justru mengembalikan persaingan usaha menjadi sehat.

 

Saat ini para wakil rakyat dan eksekutif kota Bandung tak reda dikunjungi demo menuntut pemberhentian izin operasi suatu perusahaan taksi. Mengurangi atau menghentikannya adalah hak eksekutif. Namun sebelum ditetapkan ada satu pertanyaan yang tersisa: bila pengusaha tak mampu efisien, layakkah konsumen yang dihukum?

 

ELPI NAZMUZZAMAN

Analis Ekonomi dan Persaingan Usaha

KPPU

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: