Posted by: lilyardas | November 15, 2005

Upaya Australia Merangkul Islam

Published in NOOR magazine, Sept 2005 edition

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, tapi langit masih tampak sangat gelap. Bulan Mei merupakan musim gugur, sehingga matahari baru terbit pukul 7.12.Pesawat Garuda yang membawa kami selama lebih dari 4 jam dari Denpasar, mendarat mulus di bandara internasional Melbourne. Alhamdulillah, akhirnya saya tiba juga di salah satu kota terbesar di Australia ini. Bersama dua orang rekan dari Yogyakarta, saya mewakili organisasi Islam di Indonesia dalam rangka Indonesia-Australia Youth Exchange Program.

Seorang gadis manis berkerudung hitam menyapa kami dengan ramah, “Assalamu ‘alaikum sisters, my name is Sara Kaseem”. Sara, warga Australia keturunan Lebanon, adalah staf yang Islamic Council of Victoria yang menjadi pemandu kami selama 6 hari di Melbourne (Victoria adalah nama negara bagian dimana Melbourne menjadi ibukotanya).

TENTANG MUSLIM EXCHANGE PROGRAM

Sering kali terjadi kesalahpahaman terhadap Islam dalam pandangan sebagian besar masyarakat dunia barat, apalagi setelah serangan terorisme 11 September di Amerika Serikat. Kesalahpahaman ini juga terjadi bagi umumnya masyarakat di Australia

Dalam kaitan itu, Australia-Indonesia Institute (AII) menyelenggarakan program pertukaran pemuda Muslim yang antara lain diharapkan dapat menjadi bagian dalam upaya menghapus kesalahpahahaman tersebut, khususnya bagi Islam di Indonesia, sekaligus menyambung tali silaturahmi sesama saudara Muslim di kedua negara tersebut.

Program ini diprakarsai Profesor Virginia Hooker dari jurusan Asian Studies Austalia National University bekerja sama dengan Profesor Merle Ricklefs dari jurusan Asian Studies University of Melbourne. Program ini dilaksanakan selama 3 tahun fiskal berturut-turut, yaitu tahun 2002/2003 sampai 2004/2005. Tiap tahunnya, sekitar 12 orang Muslim dari Indonesia, diberangkatkan ke Australia selama 2 minggu, untuk mengunjungi institusi dan komunitas Muslim di sana, beberapa organisasi agama non-Muslim pun masuk ke dalam agenda kunjungan. Sebaliknya, sejumlah Muslim asal Australia juga mengunjungi Indonesia dalam jadwal yang berbeda

Kedua belas Muslim Indonesia ini dibagi menjadi 4 kelompok dan diberangkatkan dalam jadwal yang berbeda. Saya bersama Emil dari Ikatan Jamaah Ahlul Bait (Ijabi), Yogyakarta, dan Trias dari Nasyiatul Aisyah Yogyakarta, berkesempatan untuk mengunjungi Melbourne, Canberra, Wollongong dan Sydney. Saya sendiri mewakili Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, Jakarta.

MELBOURNE

Melbourne merupakan kota berpenduduk terpadat kedua di Australia dengan jumlah penduduk 3,2 juta jiwa (bandingkan dengan Jakarta). Ibu kota provinsi Vicotria ini dibangun tahun 1800-an, dengan struktur kota yang sangat rapi, dilengkapi dengan trem sebagai salah satu sarana transportasi dalam kota. Tidak sulit untuk mencari makanan Indonesia di sini, karena jumlah orang Indonesia yang belajar di Melbourne ini cukup banyak. Melbourne juga merupakan salah satu kota favorit bagi pelajar dari belahan dunia. Di kota ini kami menginap di apartemen yang terletak tepat di pusat kota.

Di kota ini kami mengunjungi Islamic College, Migrant Resource Center, Victoria Arabic Social Service, dan sebagainya. Termasuk diskusi dengan mahasiswa Indonesia yang mengajar atau melanjutkan studi University of Melbourne. Salah satu topik pembicaraan kami pada saat itu adalah… poligami

Salah satu kunjungan yang menarik di Melbourne adalah kunjungan ke Multi-Cultural Section di Victoria Police Station Regional 3. Di sana kami diterima oleh Multi-Cultual Counsultant bernama Ali Gurtag, seorang migran Muslim yang berasal dari Turki. Ali menjelaskan bahwa Kepolisian Negara Bagian Victoria terbagi menjadi 5 regional. Dan sejak tahun 2000, tiap regional memiliki divisi Multi-Cultural yang minimal beranggotakan 2 orang konsultan dari golongan minoritas di regional tersebut. Misalnya di regional 3 ini, terdiri dari Ali dari golongan Islam, dan rekannya dari Kristen Ortodoks. Di tempat tertentu, bisa juga terdapat konsultan dari suku Aborigin atau kaum minoritas lainnya.

Fungsi dari konsultan ini adalah sebagai penyambung lidah bagi hukum dan kepolisian, terhadap masyarakat minoritas, yang terkadang merasa tidak nyaman bila harus berhadapan dengan polisi. Ini merupakan salah satu upaya kepolisian untuk meminilmalkan kesalahpahaman antar warga Victoria yang multi-kultural. Misalnya, sebelum divisi ini dibentuk, ada suatu kejadian dimana seorang polisi kulit putih mendobrak pintu rumah seorang Muslimah. Karena ketika pintu rumah diketuk, pemilik rumah tidak membukakan pintu selama lebih dari 5 menit, sehingga polisi menyangka pemilik rumah tidak mau mempersilakan dia masuk, dan mendobrak masuk rumah tersebut. Padahal alasan kenapa si penghuni tidak membukakan pintu secepatnya, adalah karena yang bersangkutan sedang sibuk mengenakan kerudungnya.

Kantor Multi-Cultural Section ini juga memiliki peranan penting untuk mengedukasi komunitasnya mengenai kaum minoritas. Misalnya ketika terjadi teror 11 September dan bom Bali, kantor ini mengadakan sejumlah kelas pengenalan terhadap Islam, untuk mencegah kebencian awam terhadap Islam. Begitu pula bila terjadi pendiskreditan warga terhadap kaum minoritas lainnya. Tampaknya warga kulit putih merasa lebih nyaman bila mendapatkan informasi mengenai kaum minoritas, misalnya Islam, dari pihak kepolisian dari pada institusi Islam itu sendiri.

Walaupun acara sangat padat, kami sempat juga berwisata ke Heallesville Sanctuary, yaitu semacam kebun binatang yang khusus memelihara hewan asli Australia – yang ternyata bukan hanya Kangguru dan Koala saja. Kami juga sempat mengunjungi Melbourne Museum dan pasar kaki lima yang ada tiap hari minggunya. Persis pasar ular di Jakarta atau Cimol di Bandung, tapi dalam versi lebih rapi dan beradab tentunya.

CANBERRA

Kota kedua yang kami kunjungi adalah Canberra, yang jaraknya 1 jam dari Melbourne dengan menggunakan pesawat. Kota ini merupakan ibukota negara Australia, yang berpenduduk 320 ribu orang saja. Jumlah penduduk ini bisa bertambah menjadi dua kali lipat di saat rapat kabinet atau majelis berlangsung. Kota ini benar-benar seperti kota mati di malam hari. Canberra merupakan suatu kota yang dibentuk pada tahun 1901, yang desainnya diciptakan dari sebuah kompetisi desain tata kota. Diawali dengan perseteruan antara Melbourne dan Sydney yang „berseteru” untuk menjadi ibukota negara, maka diambil jalan tengah untuk membuat suatu kota baru yang terletak tepat di antara 2 kota tersebut.

Di Canberra ini lebih banyak kegiatan kami adalah di area ANU, diantaranya bertemu dengan Profesor jurusan Asian Politic, ANU Student Chaplain (organisasi yang menjadi induk organisasi agama di universitas-universitas), termasuk dengan para mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil kuliah S2 atau S3 di sana. Topik diskusi dengan mahasiswa Indonesia ini, rupanya tidak jauh berbeda dengan topik teman-teman di Indonesia, yaitu tentang…. jodoh

Hari terakhir di Canberra ini kami juga sempat diwawancara oleh koran lokal Canberra Times, dengan judul artikel „Indonesia Muslim Visitors Spread Peaceful Message“

WOLLONGONG

Wollongong hanya berjarak 1 jam dari Sydney dengan menggunakan kereta api. Kota ini hanya berpenduduk 250 ribu orang. Tetapi suasana kota yang diapit oleh gunung dan pantai ini jauh lebih hidup dan hangat dari pada di Canberra.

Agenda kunjungan di kota kecil ini sangat berbeda dengan di kota2 lainnya. Kami tidak mengunjungi institusi apa pun, kecuali beramah-tamah dengan walikota Wollongong. Sisanya kami gunakan untuk menikmati hotel mewah tempat kami menginap, menikmati pantai, jalan-jalan ke pegunungan, dan mengetahui kehidupan sebuah keluarga kulit putih Australia, bernama Robert Goodfellow.

Robert adalah seorang Doktor di jurusan Asian Business di Universitas of Wollongong, konsultan anti-narkotika di rumah sakit umum – yang mewahnya melebihi rumah sakit swasta di Jakarta, Business Development Manager di City Museum of Wollongong, kontributor harian the Jakarta Post, serta ayah dari 3 orang anak yang berbakat dan seorang istri yang sangat cantik. Saya sampai berdecak kagum, darimana dia punya enerji yang sebanyak itu.

Sesuai dengan namanya (goodfellow = orang yang baik), Rob memang memiliki kepribadian yang sangat menyenangkan. Ia selalu bersemangat untuk menjamu tamu-tamunya dari Indonesia, termasuk menjadi ‚bapak asuh’ bagi para mahasiswa di Wollongong. Di antaranya membantu mencari dana pendidikan, sampai memeriksa thesis mahasiswa terutama dalam hal grammar, sebelum dipresentasikan. Tampaknya Rob memang memiliki ketertarikan yang besar terhadap Indonesia, khususnya Yogyakarta. Dalam hidupnya, ia sudah mengunjungi Indonesia selama 65 kali!

Rob pernah menghabisakan masa 1 tahun mengajar di IAIN Yogyakarta. Ia memiliki bahasa Indonesia yang fasih. Bahkan ia dan keluarganya, selain memiliki nama barat, juga memiliki nama Indonesia, ia memilih nama Sujoko untuk dirinya (awalnya saya sempat bingung, ketika sampai di stasiun kereta api, ada bule bicara bahasa Indonesia dan mengaku bernama Sujoko), Fatimah untuk istrinya, dan Budiman serta Marhein (dari Marhaenisme, karena ia pengagum bung Karno). Bahkan, ia memberi nama Petrus pada temannya Peter (yang kemudian kami ganti namanya menjadi Petruk) dan Martono untuk temannya Martin. Bersama Martin, Rob telah menerbitkan 8 buah buku tentang bisnis yang beberapa diantaranya telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia.

SYDNEY

Kota pelabuhan dan perdagangan ini merupakan kota tujuan terakhir kami dalam lawatan ke Australia. Kota terbesar dengan penduduk hampir 4,5 juta jiwa ini (lagi-lagi coba bandingkan dengan Jakarta), merupakan kota paling semrawut di Australia. Bagi kami, kota ini pun bukan kota yang ramah bagi wisatawan seperti Melbourne, terutama bagi salah satu teman saya yang dijambret orang dipinggir jalan, sehingga yang bersangkutan terpaksa menghabiskan waktunya di Konsulat Indonesia dan kantor perwakitan Garuda Indonesia untuk mengurus paspor dan tiketnya yang hilang.

Perjalanan di Australia menjadi anti-klimaks bagi kami. Program di Sydney yang memakan waktu 6 hari 5 malam ini, terpaksa bubar sebagian, karena pemandu kami di Sydney harus menemani teman saya mengurus pembuatan paspor. Untungnya (atau ruginya?) karena jatah cuti saya dari kantor sudah habis, saya terpaksa pulang lebih dulu dari teman-teman saya yang pulang 4 hari kemudian . Jadi saya tidak mengalami hari-hari penantian di Konsulat dan kantor Garuda. Saya hanya sempat menghabiskan waktu 1 malam di Sydney, dan melihat Sydney Opera House dari balik kaca mobil, sebelum menuju international airport untuk kembali ke Indonesia.

Sedih memang, sudah jauh-jauh sampai Sydney, hanya bisa melihat-lihat dari balik kaca mobil. But that’s okay, I’ll be back for Sydney… I hope

ISLAM DI AUSTRALIA
(sumber Kedutaan Australia di Indonesia)

Sensus Australia terakhir pada 1996 memperlihatkan laju pertumbuhan, yang mengesankan dari jumlah penduduk Muslim Australia sebesar 200,885 jiwa, atau meningkat 161% dala waktu 15 tahun terakhir, dibandingkan jumlah penduduk Australia secara keseluruhan hanya meningkat sebesar 21,7% dalam periode yang sama. Beberapa perkiraan terakhir menunjukkan umat Islam Australia kini berjumlah lebih dari 300,000 jiwa

Komunitas Muslim Australia berasal dari lebih kurang 60 negara, yang terbesar adalah dari Lebanon dan Turki. Basis oraganisatoris komunitas Muslim Australia meliputi lebih dari 100 kelompok yang mewakili kepentingan warga Muslim pada tingkat local atau regional. Selain itu dewan-dewan Islam yang mewakili komunitas Muslim yang lebih luas telah didirikan di semua Negara Bagian dan Teritori Australia. Seluruh dewan tersebut bernaung di bawah suatu badan nasional tertinggi, Australian Federation of Islamic Councils (Federasi Dewan Islam di Australia)

Di Australia terdapat sepuluh sekolah dasar Isalam 11 gabungan sekolah dasar dan menengah. Dewasa ini terdapat sekitar 100 mesjid di Australia, terutama di New South Wales dan Victoria. Masjid pertama Australia dibangun di Marree di bagian utara Australia Selatan pada tahun 1861. Masjid besar pertama dibangun di Adelaide pada 1890 dan Broken Hill (New South Wales) pada tahun 1891.

Kaum Muslim sudah hadir di Australia sejak sebelum adanya pemukiman Eropa di Australia. Diperkirakan nelayan dan pedagang dari Makaras telah mengunjungi bagian utara Australia mulai abad 16, tetapi pupolasi semi permanen pertama adalah penunggang kuda Afganishtan pada tahun 1800an

Cikal bakal populasi Muslim Australia sekarang ini datang setelah Perang Dunia kedua, terutama dari orang Turki dari Siprus yang mencari penghidupan baru di Australia. Laju pertumbuhan populasi Muslim kembali meningkat pada 1972, ketika kebijakan multi-kulturalisme dicanakan sebagai tema kebijakan iimigrasi Autralia. Sebelumnya sebagian besar imigran Muslim berasal dari Eropa. Muslim Lebanon dalam jumlah besar mulai bermikim di Australia pada tahun 1970an

Advertisements

Responses

  1. asik..
    terus nulis ya..biar bisa ‘mencuri’ pengalamanmu..

    Like

  2. hiihhhh…akhirnyaa…
    seinget gue lo pernah janji mau cerita jalan-jalan ke ausi…
    itu bulan kapaaaannnnn yaahhhh…!!??!!!

    Like

  3. Lily

    Congratulations on having your article published. Richard and I will now sit down with our Indonesian / English dictionaries to read it.

    Best wishes from all the family

    Liz

    Like

  4. Hi Lilly. Many thanks. Great to hear from you and thank you for the great article. Rob.

    Like

  5. Dear Lily

    Your article is WONDERFUL!!! I am so happy you did it -thank you. And NooR is a great magazine with very sophisticated readers of different ages, so its a good choice.

    My warmest congratulations and best wishes. Selamat Lebaran 1426. Mohon maaf lahir bathin

    Virginia

    Like

  6. Wah lily! ternyata kamu okey juga nich dalah hal tulis menulis (ex BD gitu lho cha.. hehe)

    Like

  7. Assalamualaikum Mba Lily ^^
    salam kenal mba, saya dennis, anak UGM,
    menarik banget ceritanya…
    kebetulan pekan kemaren secara ga sengaja saya menemukan publikasi tentang program AII yang terkait dengan Indonesia-Australia Youth Exchange untuk tahun 2009 nanti. Setelah membacanya, saya jadi langsung dan ingin mencobanya, siapa tahu dapat menambah khazanah Islam di luar negeri bagi saya.
    ehm…mba lily bisa menceritakan proses mekanisme seleksi dulu, mulai dari memasukkan berkas hingga penumuman lolos.
    Saya ingin mendapat gambaran detailnya kayak apa.
    makasih Mba…
    btw,Mba Lily jogjanya disebelah mana ya?
    masih kuliah?
    makasih lagi mba^^
    Wassalamualaikum Wr.Wb

    Like

  8. Walaikum salam mas, saya dari Jakarta, dua rekan saya yang dari Jogja

    Detail mengenai mekanisme seleksi MEP 2009 bisa dilihat di http://www.indonesia.embassy.gov.au/jaktindonesian/MEP2009.html

    Kuliah? Wah, pengen mas kuliah lagi, tapi belum ada yang mau kasih saya beasiswa … hiks (curhat colongan….:D)

    Like

  9. Assalamu’alaikum Mba Lily…
    salam kenal, saya anam, anak Univ.Muhammadiyah Yogyakarta…

    Saya mau nanya nih mengenai program Indonesia-Australia Youth Exchange untuk tahun 2009, terkait mengenai persyaratannya. Surat-surat keterangan semuanya apakah harus ditulis dgn bhasa inggris? trus mengenai waktu keberangkatan jika terpilih, biasanya waktu keberangkatannya kapan y mba?
    Thanks a lot y mba atas informasinya…
    Wassalamu’alaikum..Wr.Wb

    Like

  10. kayaknya surat2 gak perlu ditranslate deh….. kalo waktu keberangkatan kita boleh propose, tapi mereka yg nentuin… kalo waktunya gak klop, bisa minta tuker asalkan ada peserta lain yg mau diajak tukeran waktu….

    dulu sih gitu, gak tau deh sekarang, dah ampir 5 tahun yg lalu gitu lho…. peraturan bisa berubah

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: