Posted by: lilyardas | November 12, 2005

In Memoriam

9 November 2005
Tadi pagi kakak saya menelepon, katanya Uni Wati (53 tahun) meninggal dunia tadi pagi. Sepupu saya satu ini sudah bertahun-tahun mengidap penyakit kanker, saya sendiri gak gitu ngerti detail penyakitnya.

Sehari sebelum lebaran, almarhumah ngotot ingin menikahkan putri tunggalnya Nila, di hari ketiga Lebaran, yang semula direncanakan hanya acara tukar cincin. Kebingungan keluarga terjawab sudah, mengapa almarhumah begitu ngototnya

Di mata saya keluarga Uni Wati adalah keluarga yang sempurna. Ibu yang cantik, Ayah yang baik, anak yang sopan. Belum lagi hidup yang berkecukupan dan insya Allah shaleh. Tapi ketika melihat jenazah sepupuku nan jangkung itu, sempat hati bergidik, ternyata hal-hal kebendaan seperti kecantikan dan kekayaan benar-benar tidak ada artinya ketika tubuh terbalut kain kafan.

Sepi, sendiri di dalam kubikel 2×1 meter itu.. siapkah saya?

10 November 2005
Malam ini saya dikagetkan kabar kematian selanjutnya. Kali ini yang meninggal adalah Nining (30 tahun), kakak kelas saya di Arsitektur ITB. Menurut kabar dari beberapa teman, Nining meninggal karena kekurangan darah, setelah melahirkan putrinya, katanya kemungkinan besar rumah sakit telat antisipasi persediaan darah dari PMI.

Ternyata itu anak ketiga. Anak pertamanya meninggal waktu di usia beberapa bulan. Sejujurnya saya gak tau harus kasian atau iri dengan Nining, karena menurut Islam orang yang meninggal ketika melahirkan jaminannya adalah mati syahid, sedangkan anak yang meninggal sebelum baligh (menurut hikayat, bukan hadist) menjadi berkah bagi orang tuanya, karena mereka akan memberikan minum kepada orang tuanya ketika semua orang kehausan di padang masyar nanti yang konon minta ampun panasnya. Anak-anak ini hanya akan memberi minum pada orang tuanya, tidak dengan orang lain

Kasihan suaminya harus mengurus 2 orang anak, anak keduanya umur 3 tahun

Kalu gak salah juga jaman masih kuliah, Nining ini pernah diangkat salah satu indung telurnya, begitu panjang perjalanan Nining

12 November 2005
Ini hari ketiga saya mendengar kabar kematian seseorang. Kali ini ayah Mbak Sansan, teman kerja saya ketika di Rase dulu. Dari SMS yang saya dapat, ayah mbak Sansan meninggal karena serangan jantung

Tiga hari berturut-turut saya mendapat kabar kematian kerabat. Ternyata kematian begitu dekat dan nyata. Ketika saya bercerita kepada teman dekat saya, dia berkomentar ”Allah sedang menguji kecerdikan kamu”

Orang cerdik mengingat mati – Imam Gazali

Advertisements

Responses

  1. Halo bu… nulis lagi… 🙂
    gue kemaren tiba-tiba dapet sms dari temen sma… hemm…kenapa yang tiba-tiba cenderung kabar buruk yah?…

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: