Posted by: lilyardas | April 16, 2017

Makhluk Berkromosom XX

Perempuan (makhluk berkromosom XX) yang jiwanya butuh mengeluarkan 20 ribu kata per hari.
Ibu yang jarang diajak ngobrol santai oleh suaminya, maka bahasa tubuh dan nada bicaranya tidak mengenakkan.
Menyusui anak akan resah, tak sabar dengann kelakuan anak, bahkan cenderung menjadikan anak sebagai sasaran pelimpahan emosi yang tidak semestinya.
Jadi, kadang endapan permasalahan dengan

sang ayah dimanifestasikan dalam bentuk amarah yang tidak jelas kepada anak-anak.
Terkadang, ada Ibu yang tetap sabar kepada anak-anaknya meskipun Ayah tak memberi ruang bagi jiwanya…, tapi manifestasi ekstrim nya dalam bentuk penyakit fisik yang sulit sembuh.
Maka tugas wajib ayah adalah memberikan ruang, waktu dan suasana setiap hari bagi Ibu untuk bicara sebagai upaya untuk selalu menyehatkan jiwanya, mendengar keluh kesahnya.
Rangkul Ibu untuk marah dan menangis kepada Ayah saja agar sehat jiwanya, agar Ibu bisa selalu memberikan bunga cinta untuk anak-anaknya.
Ibu yang sehat jiwanya dapat menjalankan tugasnya sebagai sekolah terbaik bagi putra-putri nya…
Ia bisa tahan berjam-jam mendengar keluhan anak-anaknya. Ia mudah memaafkan anaknya. Ia menjadi madrasah yang baik untuk menanamkan nilai- nilai Robbany…, dan hal ini harus didukung oleh ayah yang memperhatikan bathinnya, disamping kesehatan fisiknya. Ibu harus sehat luar dalam.
Ayah yang hebat, berawal dari suami yang hebat, yang mengerti jiwa dan kebutuhan pasangan.
Singkatnya, bahagiakan pasangan kita,

karena ia adalah madrasah utama bagi anak-anak kita.
Ustadz dr .Raehanul Bahraen

Advertisements
Posted by: lilyardas | March 19, 2017

Anak SD harus belajar apa?

Source: Anak SD harus belajar apa?

Dengan penerapan kurikulum 2013, ada perubahan berarti dalam apa yang harus dipelajari oleh anak SD di Indonesia. Mapel di SD berubah menjadi Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, Penjaskes Olahraga, sementara IPA dan IPS diajarkan secara terpadu dan tematik. 

Sebenarnya apa yang harus dipelajari anak SD?

Anak-anak yang duduk di bangku SD adalah anak-anak yang berusia 6 tahun sampai dengan 12 tahun. Dalam rentang usia seperti itu, sudah dipelajari dalam psikologis perkembangan bahwa mereka adalah manusia muda yang sedang dipersiapkan menghadapi kegiatan belajar yang sesungguhnya, yaitu kegiatan belajar yang mengoptimalkan penggunaan otak, hati, dan fisik.

Anak-anak SD dalam perkembangan intelektualnya belum dapat memahami konsep-konsep yang abstrak, tetapi mengenali benda-benda secara kongkritnya saja. Sehingga sulitlah dia diajari tentang konsep-konsep akidah, selain membiasakannya dengan perbuatan-perbuatan yang merupakan implikasi akidah yang baik.

Secara emosional, anak-anak masih labil, dan belum bisa mengontrol emosinya sendiri. Sehingga wajar, jika meminta sesuatu dan tidak dipenuhi, maka mereka akan menangis. Jiwa sosialnya juga belum matang, sehingga ketika bermain dengan teman, masih sering muncul pertengkaran tentang kepemilikan alat bermain.

Dalam kemampuan bahasa, mereka sedang belajar meniru ucapan-ucapan yang diucapkan oleh orang dewasa, kadang-kadang mereka sekedar menirunya tanpa tahu artinya. Mereka belum bisa membedakan bahasa yang sopan dan harus diucapkan kepada siapa. Makanya jangan heran, ketika dia mengajak berkenalan orang dewasa, dia dengan lugunya mengatakan, “Namamu siapa?” Dia belum tahu apa perbedaan, “mu”, “nya”, “Bapak/Ibu”, dll.

Pada dasarnya siswa di SD dapat dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu Kelas rendah (kelas 1, 2, dan 3), dan kelas atas (4,5, 6). Bahkan jika hendak dibagi lebih ketat lagi, kelas 1,2, dan 3 adalah kelas rendah, kelas 4 dan 5 adalah kelas menengah, dan kelas 6 adalah kelas atas. Pembagian ini menentukan perbedaan pengetahuan dan keterampilan yang seharusnya dididikkan.

Anak-anak kelas rendah adalah kelompok yang baru saja mengalami proses peralihan dari fase bermain di TK menjadi proses “duduk dengan tenang” di atas kursi, dan mulai “bersiap-siap” untuk belajar. Apa yang dipelajari dalam Masa Persiapan Belajar? Mereka diajari sikap-sikap baik dalam belajar, misalnya duduk dengan tegak, tidak berbicara ketika guru menerangkan, tidak berteriak, tidak menangis (attitude), menggunakan pensil dengan benar untuk menulis (writing), membunyikan huruf, suku kata, dan menyatukannya dengan penyebutan yang benar (reading), menghitung benda-benda yang dimilikinya, yang ada di sekitarnya untuk membedakan sedikit dan banyak (counting), dan menggabungkan kata-kata sederhana menjadi kalimat pendek (speaking).

Anak-anak pada kelompok kelas rendah selain belajar menjadi “manusia di dalam kelas”, juga belajar menjadi “manusia di dalam keluarga dan lingkungan rumahnya”. Di sekolah, dia tidak diajari melipat baju, merapikan tempat tidur, mandi sendiri, membantu ibu menyiapkan sarapan, merapikan meja makan, dll, oleh karena itu pembiasaan yang lekat dengan keperluannya sehari-hari perlu dituntunkan di rumah. Dan ini bukan dilakukan oleh PEMBANTU, tetapi oleh IBUNYA.

Dalam kaitannya sebagai makhluk sosial, dia dibimbing mengenali kehidupan bersama. Ketika berjalan di trotoar, tidak hanya dia yang berjalan di situ, tetapi ada pejalan kaki yang lain, ada pengendara sepeda, ada pemakai sepatu roda, ada orang buta dan cacat, ada kakek-nenek, sehingga dia perlu belajar “berbagi jalanan”. Ketika berada di dalam kendaraan umum, dia belajar mengenali para pengguna kendaraan umum, dan dia sekaligus belajar “berbagi kendaraan”. Dia melihat peristiwa-peristiwa itu sehari-hari, dan guru di sekolah berfungsi membantunya memahami fakta konkgrit itu melalui penjelasan yang mudah dimengerti oleh anak.

Berdasarkan logika berpikir di atas, maka anak-anak kelas rendah sebaiknya diajari pembiasaan tugas-tugas kemandirian sehari-hari melalui satu mapel, misalnya Life skill atau kalau di Jepang dikenal dengan istilah Seikatsuka (生活科). Pelajaran yang berfungsi untuk pembentukan fisik, kejiwaan/kepekaan, dan kemampuannya untuk belajar perlu diberikan pada level ini. Pelajaran Berhitung (bukan matematika), pelajaran olah raga, seni musik, seni lukis, keterampilan, bahasa (ibunya), moral , praktek ibadah sesuai agamanya, itulah yang perlu diberikan. Fungsi dari mapel itu adalah mempersiapkan siswa untuk belajar yang lebih tinggi dan rumit.

Di kelas-kelas atas, otak, emosi, spiritual, dan jiwa sosial anak mulai berkembang ke level siap belajar dan berargumentasi yang sederhana. Dia mulai belajar memahami fakta-fakta alam dan masyarakat di sekitarnya. Dia mulai memahami mengapa di jalan raya perlu diberi lampu lalu lintas, dan mengapa semua kendaraan harus berhenti ketika lampu merah menyala. Dia juga mulai bisa mencerna, mengapa ketika hendak naik kereta, semua harus antri membeli tiket, dan berbagai norma-norma dasar dan prinsip dalam masyarakat.

Dalam kaitannya dengan sains, dia belajar tentang konsep asal-usul makhluk, mengenal ada manusia kanak-kanak, orang muda, orang dewasa, dan kakek nenek, dia mulai belajar tanaman di sekitarnya tumbuh, berkembang, dan mati. Dia mempelajari bahwa serangga, hewan-hewan di sekitarnya lahir, besar, dan akhirnya mati. Dia menyadari bahwa sama dengan dirinya, hewan-hewan itu suatu kali sakit. Dia mulai belajar, mengapa perutnya sakit ketika dia makan sesuatu tanpa cuci tangan.

Dalam kaitannya dengan ilmu sosial, yang perlu dipelajarinya adalah norma-norma hidup bersama di sekolah, di rumah, dan di tempat-tempat umum. Dia belajar untuk mendapatkan sayur-mayur, ibunya perlu datang ke pasar, berinteraksi dengan penjual. Untuk bepergian ke suatu tempat, dia perlu ke terminal, ke stasiun, ke bandara, dan ada orang-orang yang bekerja di sana supaya semuanya lancar. Untuk menjaga supaya masyarakat tertib membuang sampah, membangun rumah dengan teratur, agar antartetangga saling menjaga kenyamanan tinggal, maka di tingkat terendah ada Ketua RT, Ketua RW, Pak Lurah, Pak Kades, hingga akhirnya dia memahami mengapa negara perlu dipimpin seorang Presiden. Banyak masalah-masalah sosial yang perlu diperkenalkan kepada anak kelas atas SD, tetapi belum waktunya dia dipaksa belajar tentang kerumitan organisasi pemerintahan, lembaga-lembaga negara, sebelum dia diajak memahami kerumitan pengaturan masyrakat di tingkat RT/RW-nya.

Jadi, selayaknya SD kelas atas belajar IPA, IPS, Matematika, dan Bahasa secara terpisah. Dengan memadukannya, maka hilanglah esensi pembelajaran dasar-dasar sains dan ilmu sosial yang kontekstual. Pelajaran Bahasa yang dipelajarinya semestinya berkembang pada kemampuannya menulis, membaca dengan bacaan yang kerumitannya berjenjang, memahami kalimat-kalimat yang kompleks, dan berkomunikasi dengan kalimat-kalimat yang lebih kompleks. Kemampuan berbahasanya adalah modal untuk berkomunikasi dalam  bidang sains dan sosial.

Dalam sains dan sosial, anak-anak mulai mempelajari dan mempraktekkan pendekatan ilmiah sederhana untuk membuktikan bahwa air mengalir ke tempat yang rendah, bahwa tanpa cahaya, apapun tidak terlihat oleh mata, bahwa bahwa tanaman tidak dapat tumbuh tanpa air, bahwa air dapat berubah menjadi padat, dan uap. Skill yang diajarkan dalam bidang sains dan sosial adalah penggunaan alat-alat bantu sains, mikroskop, teleskop, termometer, alat ukur, alat timbang, dan pemanfaatan metode berpikir ilmiah.

Dalam pelajaran bahasa, mereka mempelajari tata bahasa yang baku, sekaligus melatih kepekaan karsanya melalui pengenalan susunan kata-kata yang indah, kalimat-kalimat yang cantik untuk menyatakan warna lembayung di langit sore. Dalam pelajaran bahasa, skill yang dilatihkan padanya adalah skill menulis, membaca, dan berkomunikasi.

Bukankah keduanya berbeda dalam hal kognitif, skill/psikomotorik, dan afektif yang harus dicapai? Lalu, mengapa dipaksakan untuk digabungkan dalam tematik terintegratif?

Pelajaran bahasa boleh jadi mengambil topik sains dan sosial dalam bacaan-bacaannya, tetapi dalam mempelajari sains, bahasa adalah alat bantu, dan anak tidak perlu dipaksa mempelajari gaya bahasa hiperbola dalam sains.

Saya tidak tahu negara mana yang menjadi kiblat pemerintah dalam menyusun mapel SD di Kurikulum 2013, tetapi seandainya masih dapat diperbaiki, alangkah baiknya mengembalikan pelajaran IPA dan IPS pada selayaknya, demikian pula Bahasa Indonesia, Matematika pada posisinya.

Posted by: lilyardas | January 13, 2017

Tips Menjual Emas (2) : Perhiasan

ilustrasi-perhiasan-emas_20150724_185214Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini saya mau share pengalaman menjual perhiasan emas.

Berbeda dengan menjual Logam Mulia yang ditargetkan kepada end user, mau gak mau kita harus menjual perhiasan emas ke toko emas. Siapa juga yang mau beli perhiasan emas kita? Apalagi perhiasan jadul yang old fashion tapi bukan kategori barang langka. Kecuali itu orang memang kesian banget liat kita ngenes pengen jual perhiasan emas kita untuk modal atau keperluan sesuatu (diclaimer: ini bukan curcol)

Pertanyaannya? Bagaimana mendapatkan harga jual terbaik?

  1. SURVEY HARGA

Banyak orang yang langsung “bunuh diri” datang ke toko emas untuk menanyakan harga. Walah, alamat langsung jadi mainan deh sama toko emas. Harga perhiasanmu akan dihempaskan serendah-rendahnya. Belum lagi kalau kita datang ke toko emas dengan kondisi BU. They can see it from your face!! Jadi jangan ngide untuk survey harga ke toko emas, walaupun anda datang ke 10 toko emas sekali pun

Satu tempat yang saya gunakan untuk survey harga perhiasan emas adalah GADAI EMAS

Gadai emas bisa dimana aja, Perum Pegadaian, bank syariah, atau pegadaian umum. Yang pernah saya coba adalah Perum Pegadaian, BSM, BNI Syariah dan Bank Mega Syariah

Dari keempat tempat gadai emas itu, semuanya sepakat kalau Perum Pegadaian selalu memberikan penawaran lebih tinggi. Ada dua angka yang mereka sebutkan ketika kita meminta taksiran harga perhiasan, yaitu harga taksiran pasar dan harga taksiran gadai. Harga taksiran pasar adalah harga jual emas dari kaca mata mereka, sementara harga taksiran gadai adalah uang yang bisa kita cairkan dengan menggadaikan emas mereka ke institusi mereka besarnya sekitar 80% dari harga taksiran pasar

Aktifitas menaksir barang ini free lho, tapi kalau CS-nya tau kita cuma mau tau doang tapi ga jadi ngegadai pasti ya bete lah. So hati-hati deh, jangan bikin dia kesel hehehe

  1. CARI TOKO EMAS YANG RECOMMENDED

Bisa tanya-tanya sama temen, tapi kalo ga ada rekomendasi ya kudu modal nekad, tenang dan sadar

  1. MULAI LAH BERNEGOSIASI ALOT

Datang dalam keadaan tenang, seolah ga butuh duit, dan kalo perlu jangan bawa anak untuk menghindari emosi ketika transaksi. Apalagi kalau Anda belum pernah datang ke toko emas ini

Toko emas umumnya akan memberikan harga SETENGAH dari harga taksiran pasar yang disampaikan oleh gadai emas. Gile, mendingan ngegadai emas aja sekalian ketimbang jual ke toko emas kalo gitu mah

Nah di saat itu lah, acting “ga butuh” diperlukan. Apalagi kalau emas Anda dari Arab atau Sumatra, umumnya toko emas ga mau ngelepasin barang Anda. Tapi mereka pun akan pasang acting, tanya-tanya surat, tanya-tanya KTP, pasang muka “duh susah jual ini barang” dst. Jangan kemakan!!

Biasanya dia akan tanya, “Mau jual berapa?” Jangan pasang tampang bingung. Kasih harga sedikit lebih tinggi dari yang ditaksir gadai emas. Kalau dia bilang kemahalan, gertak aja “Oh, ya udah, ga jadi jual deh.” Ntar juga dia buru-buru nahan Anda untuk pergi kok hehe…

Untuk 1 perhiasan emas, bisa 3-4x bolak-balik dia nanya ke bosnya. Ntah nanya beneran, atau pura-pura nanya ga tau juga deh. Istiqamah aja dengan harga yang ada di kepala Anda. Biasanya saya goal tuh, kadang nyesel juga harusnya naikin harganya 10-20% dari harga taksiran gadai emas kali ya? Sampai si toko emas itu ga mau beneran

Tapi sejujurnya, setiap kali jual perhiasan emas, tetap aja deg-degan ngadepin pegawai toko emas, takut ditipu, taku disirep, dll hehehe… Rajin-rajin baca doa aja

Selamat mencoba…

Posted by: lilyardas | January 9, 2017

Iqro : Petualangan Meraih Bintang

41ab4289a7cfc9be33ed0b76cd2d6e6b0ae364c4.jpgSejak melihat banner film Iqro di Islamic Family Festival bulan Desember lalu, Hasbi sudah mencatat tanggal pemutaran perdananya di tanggal 26 Januari mendatang. Film ini merupakan garapan Salman Film Academy dan Masjid Salman ITB. Saya sendiri senang banget ada film anak-anak bernuansa ke-Islam-an di tengah-tengah kondisi dunia yang makin gak jelas ini

15136019_621452161395619_277951547139107094_n.jpgAlhamdulillah ujug-ujug ada yang mengajak Hasbi dan Kafa untuk ikut menonton Nonton Bareng film Iqra di Cihampelas Walk, hari Kamis 5 Januari lalu. Rencana kepulangan ke Bandung terpaksa dimajukan ke hari Rabu, 4 Januari gara-gara ingin ikut acara ini. Soalnya di nobar ini, beberapa pemain akan hadir dalam sesi Meet & Greet. Walaupun kami terlambat hadir, Hasbi cukup puas melihat para pemain yang sedang foto-foto di lobi cinema, termasuk idola barunya Muzammil Hasballah, seorang arsitek muda yang juga seorang hafizh. Dalam film ini Muzammil berpartisipasi melantunkan Doa Khatam Quran yang menjadi lagu penutup film Iqra

Sejujurnya saya terkagum-kagum melihat sebuah organisasi rumah ibadah bisa bikin film seperti ini. Iya sih, plotnya rada lambat dan dialognya kurang memberi kejutan di sana-sini. Tapi mungkin itu dari kaca mata orang dewasa seperti saya. Buktinya Hasbi dan Kafa anteng aja nonton dan masih membicarakan film tersebut sampai tulisan ini dibuat. Angle-angle gambar yang apik, akting para aktor dan aktris yang ciamik, termasuk pendatang baru Aisha Nurra Datau, putri dari kameramen Yudi Datau dan aktris Ine Febriyanti. Para figuran pun keliatan mainnya natural banget.  Dan kredit tertinggi saya berikan untuk Meriam Bellina sebagai Emak yang aktingnya benar-benar top markotop deh

15232160_625859060954929_3985402327197334323_n.jpgDari sisi cerita pun relatif sederhana, pas untuk anak-anak. Perpaduan sains dan agama, pengasuhan dan pendidikan yang penuh motivasi tanpa paksa dan pertemanan tanpa persaingan yang penuh canda tawa. Di luar itu, film ini menurut saya rasanya ITB banget (Jurusan Astronomi di Indonesia hanya ada di ITB), Anak Salman banget (camping sambil neropong bintang) dan Sunda banget (aduuh itu tukang pos lucu banget deeh logatnya). Moga-moga paduan ini tetap bisa diterima di luar lingkar tersebut

Dari broadcast promo yang saya terima, Salman Film Academy dan Masjid Salman ITB berniat menelurkan 1 film anak-anak tiap tahunnya. Semoga cita-cita mulia ini terlaksana

Jangan lupa menonton 26 Januari yaaa….

 

Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: